Dalam keadaan setengah
sadar menatap pada sebuah gedung sekolah yang 2 tahun lalu pernah menjadi saksi
singkat pertemuan itu. Aku memperhatikannya begitu lekat. Memandangi ke
sekeliling lingkungan sekolah yang sepi dan di penuhi dengan sampah dedaunan kering.
Aku melangkah perlahan dan duduk tepat di depan ruang Lab Kimia. Saat itu aku
melihatnya masuk, berjalan, tersenyum memandang ke arah lain. Wajahnya begitu
tenang. Aku seolah seperti terhipnotis ketika melihatnya pertama kali. Rasa
damai itu benar-benar ada saat aku mengenalinya sebagai orang asing yang tengah
mengurus kegiatan buku tahunan SMA angkatanku.
“Neng…” aku tersentak ketika ada seseorang yang tiba-tiba
memanggilku dengan sapaan tersebut. Dan ternyata dia adalah salah satu penjaga
sekolah.
“Astaga mang! Ngagetin aja sih. Haduuuh..” jawabku kesal.
“Hehe.. iya maaf neng, ini teh Neng Nada kan ya?” tanya
Mang Yadi yang berusaha mengingat wajahku itu.
“Hahaha, itu jidatnya biasa aja Mang, lipetannya sampe selusin
gitu. Iya saya Nada.” Aku berusaha mencairkan suasana diantara kami. Mang Yadi adalah penjaga setia sekolah yang
sudah cukup lama bekerja di SMA Prisma ini. Umurnya pun sudah bisa di bilang
paruh baya sekitar 60 tahunan mungkin.
“Ya ampun! Neng Nada ngapain atuh sore-sore begini kesini.
Sekolah juga sepi kan anak-anak lagi pada libur panjang.” Jelas Mang Yadi
kepadaku.
“Gak ngapa-ngapain Mang, lagi kangen aja sama Mang Yadi.
Hahaha!” ucapku asal demi menghibur lelaki tua yang senantiasa mencari nafkah
sendiri untuk keluarganya. “Hehehe bercanda kok Mang, kangen aja sama
kenangan-kenangan pas SMA dulu…Hmmm.. coba aja waktu bisa balik lagi.”
“Hahaha Neng Nada mah ada-ada aja, atuh ya waktu mana
bisa balik lagi neng… Yaudah Neng, mamang tinggal dulu ya, gak apa-apa kan Neng sendiri?”
“Yealah Mang, gak napa-napa kok. Sok atuh mangga..”
“Iya atuh Neng misi..” Sambil menatap Mang Yadi yang
mulai menjauh dan menghilang dari pengelihatanku, aku segera beranjak dari
tempat dimana aku duduk. Aku berjalan menuju arah kantin yang terletak di
bagian luar lingkungan sekolah. Langkahku terhenti ketika aku berdiri di depan
gerbang yang menghadapkanku pada sebuah kantin kosong. Rasanya disitu aku
seperti melihatnya kembali. Mereka duduk bertiga seraya bersenda gurau bersama
teman-teman kerjanya yang lain sambil menikmati semangkuk bakso. Tanpa ku
sadari air mataku telah jatuh membasahi pipiku.
Tiba-tiba saja aku berfikir untuk menulis sebuah surat. Ku
keluarkan selembar kertas dari dalam tasku.
Kepadamu
Yang Tercinta,
Sebuah
anugerah terindah untukku dapat melihatmu dan mengenalmu, meski aku tau waktu
telah salah membawa kita bertemu disaat seperti ini. Maaf cintaku bisu untukmu,
karna aku terlalu takut semuanya akan semakin menyakitkan. Segera cinta ini
akan kubawa terbang menuju kota Romeo & Juliet.
Kulipat surat itu menjadi sebuah pesawat kertas. Laluku
terbangkan keatas genting sekolah. Seraya menutup kedua mataku, aku berharap
bahwa pada akhirnya pesawat kertas itu akan sampai di sebuah kota cinta,
Verona. Dengan air mata yang mengalir deras membasahi seluruh pipiku, aku
melangkah lesu meninggalkan gedung sekolah itu.
Kriiiinngg…kriiinngg…
“Halo…”
“Nada udah dimana? Sebentar lagi pesawatnya berangkat.”
Terdengar suara seorang wanita dari balik handphone yang sudah tidak asing lagi
bagiku.
“Iya, dalam perjalanan menuju bandara Ma.” Aku pun
mengakhiri percakapan kami di telpon.
Sambil menatap kearah jalanan yang cukup padat aku terus
menangisinya. Lelaki dambaan dan impianku. Maaf
jika aku tidak mengucap sepatah kata perpisahaan pun kepadamu, karna aku tidak
ingin perpisahan itu benar-benar ada diantara kita. Aku terlalu takut untuk
kehilanganmu dan mengetahui bahwa aku akan meninggalkanmu. Namun aku janji aku
pasti pulang. Hanya saja jika kamu masih disini menungguku. Ucapku dalam
hati, bathinku sesak sejadi-jadinya.
“Mbak..mbak.. maaf ini udah sampe di Terminal 2E.” Sahut
supir taksi itu kepadaku. Yang tanpa aku sadari ternyata aku telah terlelap
karna terlalu lelah menangis selama perjalanan.
“Eh.. iya Pak makasih, aduh maaf ya Pak.” Segera saja aku
membayar ongkos taksi dan beranjak dari tempat itu. Kedua orang tuaku serta 2
adik laki-lakiku telah menungguku di depan gate Terminal 2E. Aku pun segera
menghampiri mereka. Sambil menatap wajah-wajah damai yang sudah sekian tahun
menemani dan menjagaku, rasanya berat untuk meninggalkan mereka.
“Ma..Pa..” aku segera memeluk keduanya sambil meneteskan
air mata.
“Nada, pokoknya harus inget pesan-pesan Papa ya, disana
gak usah macem-macem. Ibadahnya jangan tinggal.” Ucap Papa yang memberi seluruh
perhatiannya kepadaku. Sementara aku hanya bisa mengangguk sambil menangis dan
menangis lagi. “Jaga kondisi badan juga ya sayang.”
Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tak mampu
berkata banyak hanya bisa memeluk kedua orang tuaku. Sementara Radit dan Baba
hanya bisa ikut menangis karna melihatku menangis. Dan Mama hanya mampu diam.
Ku cium kedua tangannya seraya berpamitan dan memohon do’a keselamatan selama
perjalanan. Mereka menemaniku mengurus segala sesuatu yang harus
dipersiapkan sebelum berangkat.
“Kak, Kakak kapan pulang?” Tanya si kecil Baba yang baru
saja duduk di bangku sekolah dasar.
“Kalo kakak udah sukses, kakak pulang kok sayang.” Aku
mengelus kepalanya lembut.
“Nanti kalo Bang Adit jahat gak ada yang jagain Baba.”
Mendengar ucapan adik kecilku itu hatiku teriris. Jika aku berada diposisi
seorang adik seperti itu jelas saja dia akan merasa kehilangan malaikat
penjaganya.
“Nanti Baba bisa bilang sama Mama, nanti Mama yang
marahin Bang Adit ya sayang.” Ku kecup pipi Baba sambil memeluknya. Meskipun
kadang setiap kali berkumpul di rumah mereka suka sangat menyebalkan, tapi aku
selalu merindukan mereka.
“Ma, Pa.. Nada pesawatnya yang jam 19.00.. kalo Mama sama
Papa mau pulang gak apa-apa, sekarang kan baru jam 17.45.. biar kalian bisa
istirahat.. kasian adek-adek capek.” Ucapku seraya tersenyum menahan tangis
lagi.
“Mama sama Papa mau nunggu Nada sampe naik pesawat dulu
deh, adek-adek gak kenapa-kenapa kok.” Mama membantah dengan sigap.
“Udahlah Ma, jangan di paksain.. nanti kalo udah mau
masuk pesawat Nada kabarin Mama sama Papa lewat telpon.”
“Yaudah, kalo gitu Papa, Mama sama adek-adek pulang ya..
jangan lupa kabarin loh!” Papa mengiyakan saranku untuk pulang dan beristirahat
dirumah.
“Iya Pa, hati-hati di jalan ya Ma, Pa.. Radit jangan suka
nakal sama Baba ya.” Seraya mengelus kepala kedua adikku, aku mencium pipi Mama
dan Papa. Entah berapa lama perpisahan ini akan berlangsung. Sambil
memperhatikan mereka yang mulai menghilang dari pandanganku. Aku terduduk lesu,
memikirkan akan ada tantangan apa selanjutnya di kehidupan baruku.
Tanpa terasa aku telah menunggu begitu lama akhirnya
suara pengumuman keberangkatan ku pun tiba. Segera aku mengeluarkan ponselku
dan menghubungi Papa.
Tuuuuuttt…tuuuutttt….
“Halo Nada..” Terdengar suara lelaki itu dari balik
ponselku.
“Pa, ini pesawat Nada udah dateng Pa, Nada berangkat ya
Pa.. do’ain Nada, Mama mana Pa?” Ucapku dengan bibir begetar.
“Iya sayang, Papa do’akan terus.. Nada ngomong aja, Mama
di sebelah Papa, ini di loudspeaker kok.” Jelas Papa
“Ma, do’ain Nada ya semoga urusan dan sekolah Nada disana
lancar..Nada sayang Mama.”
“Iya Nak, hati-hati di jalan ya, jaga diri baik-baik..
Mama juga sayang Nada.”
“Nada berangkat Ma, Pa.. Daaahh..”
“Daaah Nada..” Dengan perasaan takut aku pun ragu-ragu
mematikan ponselku, rasanya aku masih ingin berbincang dengan mereka lebih lama
lagi. Sambil menunggu nomer urut tempat dudukku di sebutkan oleh salah seorang pramugari,
tanganku tidak ada hentinya memutar-mutar ponsel yang sedangku genggam. Detak
jantungku berdegup cepat. Aku masih tidak menyangka jika sebentar lagi aku akan
sampai di kota impianku. Kota cinta di Verona.
“Kepada penumpang dengan nomor duduk 40-60 silahkan
memasuki pesawat.” Terdengar suara lengkingan wanita muda itu dari jauh. Aku
pun segera beranjak dari ruang tunggu. Aku mendapati nomer duduk 47. Dengan
pesawat ini aku akan segera terbang mengejar mimpiku.
Penerbangan perdanaku keluar Negeri. Namun aku sudah
belajar sedikit tentang kota yang akan menjadi rumah kedua ku. Mulai dari
bahasa hingga budaya. Hanya bermodalkan kamus dan google translate aku rasa itu
cukup untuk mengawali percakapan disana nanti. Yang jelas aku masih akan terus
belajar. Aku segera me-nonaktifkan ponselku ketika berada di dalam pesawat
sambil mencari-cari tempat dudukku. Dan ketemu.
“Excuse me, can I have my sit?”
“Ahh..sure..”
“Thanks.” Aku segera menempati bangku ku yang bernomer
47. Ternyata aku memiliki teman mengobrol selama perjalanan nanti. Sepertinya
orang asing ini juga akan ke Verona, tapi dia tidak terlihat seperti orang
Itali. Sambil menatapnya aneh aku hanya mampu tersenyum sambil merundukan
kepalaku. Aku tidak bisa menebak berapa umrunya atau dia sepantaran dengan
siapa. Karena bagiku semua orang asing wajahnya selalu lebih tua di banding
dengan umurnya.
“So, where are you going?” Tanya bule itu kepo.
“Venice, but I’ll stay in Verona. What about you?”
“Venice too, but I’m not sure where I’ll go after that.”
“Nice…” ucapku datar. Dan sepertinya bule itu
terheran-heran dengan jawabanku barusan. Aku yang duduk tepat di pinggir
jendela menatap keluar dimana langit-langit sudah mulai gelap. Aku akan melihat
bintang-bintang itu dari dekat malam ini, selamat tinggal Jakarta. Hatiku
berbicara sesak, mataku membendung air yang sudah tidak mampu untuk di tahan.
Sementara seorang pramugari tengah menjelaskan dan memberitahukan untuk
memasang sabuk pengaman dan lainnya.
Aku merasakan pesawat sudah mulai bergerak perlahan.
Semakin lama semakin cepat dengan suara gemuruh yang membuat pesawat sedikit
bergetar. Lampu-lampu kota mulai terlihat dari langit. Begitu cantik. Sambil
mendengarkan alunan musik-musik indah yang diciptakan oleh Mozart, ku nikmati
segelas soft drink yang di sediakan oleh maskapai terbaik di Indonesia ini.
“Hey, what’s wrong with you? I don’t mean to disturb you
but can we be a good friend while the plane’s take off?” Sahut orang asing itu
kepadaku. “By the way, my name is Glen.”
“Glen, what a nice name.. I’m Nada..”
“Pretty.. what are you listening?
“Mozart, it makes me comfort anytime and anywhere I hear
it.” Ucapku singkat sambil membuka salah satu headset yang terpasang di
telingaku. “So, did you ever stay in Jakarta?”
“I know, I like it too.. 2 weeks, just curious with Bali
island actually.. I’m from California.”
“Cool, but why you’re not going back to California?”
tanyaku sedikit penasaran.
“I’ve promise someone to meet her in Venice.” Dan
percakapan itu pun terus berlangsung selama beberapa jam. Jika di perhatikan
orang asing ini tidak begitu tua. Dia pun telah menjelaskan jika umurnya masih
22 tahun. Dengan mata hazelnut dan lesung pipi itu ketika tersenyum dia
terlihat manis. Sebuah keberuntungan bagiku bisa sebangku dengannya, mungkin.
0 comments:
Post a Comment