Monday, November 4, 2013

Selamat Datang, Verona (part I)

Posted by Unknown at 8:47 PM
Dalam keadaan setengah sadar menatap pada sebuah gedung sekolah yang 2 tahun lalu pernah menjadi saksi singkat pertemuan itu. Aku memperhatikannya begitu lekat. Memandangi ke sekeliling lingkungan sekolah yang sepi dan di penuhi dengan sampah dedaunan kering. Aku melangkah perlahan dan duduk tepat di depan ruang Lab Kimia. Saat itu aku melihatnya masuk, berjalan, tersenyum memandang ke arah lain. Wajahnya begitu tenang. Aku seolah seperti terhipnotis ketika melihatnya pertama kali. Rasa damai itu benar-benar ada saat aku mengenalinya sebagai orang asing yang tengah mengurus kegiatan buku tahunan SMA angkatanku.

            “Neng…” aku tersentak ketika ada seseorang yang tiba-tiba memanggilku dengan sapaan tersebut. Dan ternyata dia adalah salah satu penjaga sekolah.
            “Astaga mang! Ngagetin aja sih. Haduuuh..” jawabku kesal.

        “Hehe.. iya maaf neng, ini teh Neng Nada kan ya?” tanya Mang Yadi yang berusaha mengingat wajahku itu.

            “Hahaha, itu jidatnya biasa aja Mang, lipetannya sampe selusin gitu. Iya saya Nada.” Aku berusaha mencairkan suasana diantara kami.  Mang Yadi adalah penjaga setia sekolah yang sudah cukup lama bekerja di SMA Prisma ini. Umurnya pun sudah bisa di bilang paruh baya sekitar 60 tahunan mungkin.

            “Ya ampun! Neng Nada ngapain atuh sore-sore begini kesini. Sekolah juga sepi kan anak-anak lagi pada libur panjang.” Jelas Mang Yadi kepadaku.

           “Gak ngapa-ngapain Mang, lagi kangen aja sama Mang Yadi. Hahaha!” ucapku asal demi menghibur lelaki tua yang senantiasa mencari nafkah sendiri untuk keluarganya. “Hehehe bercanda kok Mang, kangen aja sama kenangan-kenangan pas SMA dulu…Hmmm.. coba aja waktu bisa balik lagi.”

          “Hahaha Neng Nada mah ada-ada aja, atuh ya waktu mana bisa balik lagi neng… Yaudah Neng, mamang tinggal dulu ya, gak apa-apa kan Neng sendiri?”

            “Yealah Mang, gak napa-napa kok. Sok atuh mangga..”

      “Iya atuh Neng misi..” Sambil menatap Mang Yadi yang mulai menjauh dan menghilang dari pengelihatanku, aku segera beranjak dari tempat dimana aku duduk. Aku berjalan menuju arah kantin yang terletak di bagian luar lingkungan sekolah. Langkahku terhenti ketika aku berdiri di depan gerbang yang menghadapkanku pada sebuah kantin kosong. Rasanya disitu aku seperti melihatnya kembali. Mereka duduk bertiga seraya bersenda gurau bersama teman-teman kerjanya yang lain sambil menikmati semangkuk bakso. Tanpa ku sadari air mataku telah jatuh membasahi pipiku.

            Tiba-tiba saja aku berfikir untuk menulis sebuah surat. Ku keluarkan selembar kertas dari dalam tasku.
            Kepadamu Yang Tercinta,
Sebuah anugerah terindah untukku dapat melihatmu dan mengenalmu, meski aku tau waktu telah salah membawa kita bertemu disaat seperti ini. Maaf cintaku bisu untukmu, karna aku terlalu takut semuanya akan semakin menyakitkan. Segera cinta ini akan kubawa terbang menuju kota Romeo & Juliet.
            Kulipat surat itu menjadi sebuah pesawat kertas. Laluku terbangkan keatas genting sekolah. Seraya menutup kedua mataku, aku berharap bahwa pada akhirnya pesawat kertas itu akan sampai di sebuah kota cinta, Verona. Dengan air mata yang mengalir deras membasahi seluruh pipiku, aku melangkah lesu meninggalkan gedung sekolah itu.

            Kriiiinngg…kriiinngg…

            “Halo…”

          “Nada udah dimana? Sebentar lagi pesawatnya berangkat.” Terdengar suara seorang wanita dari balik handphone yang sudah tidak asing lagi bagiku.

            “Iya, dalam perjalanan menuju bandara Ma.” Aku pun mengakhiri percakapan kami di telpon.

            Sambil menatap kearah jalanan yang cukup padat aku terus menangisinya. Lelaki dambaan dan impianku. Maaf jika aku tidak mengucap sepatah kata perpisahaan pun kepadamu, karna aku tidak ingin perpisahan itu benar-benar ada diantara kita. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu dan mengetahui bahwa aku akan meninggalkanmu. Namun aku janji aku pasti pulang. Hanya saja jika kamu masih disini menungguku. Ucapku dalam hati, bathinku sesak sejadi-jadinya.

           “Mbak..mbak.. maaf ini udah sampe di Terminal 2E.” Sahut supir taksi itu kepadaku. Yang tanpa aku sadari ternyata aku telah terlelap karna terlalu lelah menangis selama perjalanan.

          “Eh.. iya Pak makasih, aduh maaf ya Pak.” Segera saja aku membayar ongkos taksi dan beranjak dari tempat itu. Kedua orang tuaku serta 2 adik laki-lakiku telah menungguku di depan gate Terminal 2E. Aku pun segera menghampiri mereka. Sambil menatap wajah-wajah damai yang sudah sekian tahun menemani dan menjagaku, rasanya berat untuk meninggalkan mereka.

            “Ma..Pa..” aku segera memeluk keduanya sambil meneteskan air mata.

        “Nada, pokoknya harus inget pesan-pesan Papa ya, disana gak usah macem-macem. Ibadahnya jangan tinggal.” Ucap Papa yang memberi seluruh perhatiannya kepadaku. Sementara aku hanya bisa mengangguk sambil menangis dan menangis lagi. “Jaga kondisi badan juga ya sayang.”

            Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tak mampu berkata banyak hanya bisa memeluk kedua orang tuaku. Sementara Radit dan Baba hanya bisa ikut menangis karna melihatku menangis. Dan Mama hanya mampu diam. Ku cium kedua tangannya seraya berpamitan dan memohon do’a keselamatan selama perjalanan. Mereka menemaniku mengurus segala sesuatu yang harus dipersiapkan sebelum berangkat.

            “Kak, Kakak kapan pulang?” Tanya si kecil Baba yang baru saja duduk di bangku sekolah dasar.

            “Kalo kakak udah sukses, kakak pulang kok sayang.” Aku mengelus kepalanya lembut.

           “Nanti kalo Bang Adit jahat gak ada yang jagain Baba.” Mendengar ucapan adik kecilku itu hatiku teriris. Jika aku berada diposisi seorang adik seperti itu jelas saja dia akan merasa kehilangan malaikat penjaganya.

            “Nanti Baba bisa bilang sama Mama, nanti Mama yang marahin Bang Adit ya sayang.” Ku kecup pipi Baba sambil memeluknya. Meskipun kadang setiap kali berkumpul di rumah mereka suka sangat menyebalkan, tapi aku selalu merindukan mereka.

            “Ma, Pa.. Nada pesawatnya yang jam 19.00.. kalo Mama sama Papa mau pulang gak apa-apa, sekarang kan baru jam 17.45.. biar kalian bisa istirahat.. kasian adek-adek capek.” Ucapku seraya tersenyum menahan tangis lagi.

            “Mama sama Papa mau nunggu Nada sampe naik pesawat dulu deh, adek-adek gak kenapa-kenapa kok.” Mama membantah dengan sigap.

            “Udahlah Ma, jangan di paksain.. nanti kalo udah mau masuk pesawat Nada kabarin Mama sama Papa lewat telpon.”

        “Yaudah, kalo gitu Papa, Mama sama adek-adek pulang ya.. jangan lupa kabarin loh!” Papa mengiyakan saranku untuk pulang dan beristirahat dirumah.

          “Iya Pa, hati-hati di jalan ya Ma, Pa.. Radit jangan suka nakal sama Baba ya.” Seraya mengelus kepala kedua adikku, aku mencium pipi Mama dan Papa. Entah berapa lama perpisahan ini akan berlangsung. Sambil memperhatikan mereka yang mulai menghilang dari pandanganku. Aku terduduk lesu, memikirkan akan ada tantangan apa selanjutnya di kehidupan baruku.

            Tanpa terasa aku telah menunggu begitu lama akhirnya suara pengumuman keberangkatan ku pun tiba. Segera aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Papa.

            Tuuuuuttt…tuuuutttt….

            “Halo Nada..” Terdengar suara lelaki itu dari balik ponselku.

         “Pa, ini pesawat Nada udah dateng Pa, Nada berangkat ya Pa.. do’ain Nada, Mama mana Pa?” Ucapku dengan bibir begetar.

          “Iya sayang, Papa do’akan terus.. Nada ngomong aja, Mama di sebelah Papa, ini di loudspeaker kok.” Jelas Papa

            “Ma, do’ain Nada ya semoga urusan dan sekolah Nada disana lancar..Nada sayang Mama.”

            “Iya Nak, hati-hati di jalan ya, jaga diri baik-baik.. Mama juga sayang Nada.”

            “Nada berangkat Ma, Pa.. Daaahh..”

           “Daaah Nada..” Dengan perasaan takut aku pun ragu-ragu mematikan ponselku, rasanya aku masih ingin berbincang dengan mereka lebih lama lagi. Sambil menunggu nomer urut tempat dudukku di sebutkan oleh salah seorang pramugari, tanganku tidak ada hentinya memutar-mutar ponsel yang sedangku genggam. Detak jantungku berdegup cepat. Aku masih tidak menyangka jika sebentar lagi aku akan sampai di kota impianku. Kota cinta di Verona.

            “Kepada penumpang dengan nomor duduk 40-60 silahkan memasuki pesawat.” Terdengar suara lengkingan wanita muda itu dari jauh. Aku pun segera beranjak dari ruang tunggu. Aku mendapati nomer duduk 47. Dengan pesawat ini aku akan segera terbang mengejar mimpiku.

            Penerbangan perdanaku keluar Negeri. Namun aku sudah belajar sedikit tentang kota yang akan menjadi rumah kedua ku. Mulai dari bahasa hingga budaya. Hanya bermodalkan kamus dan google translate aku rasa itu cukup untuk mengawali percakapan disana nanti. Yang jelas aku masih akan terus belajar. Aku segera me-nonaktifkan ponselku ketika berada di dalam pesawat sambil mencari-cari tempat dudukku. Dan ketemu.

            “Excuse me, can I have my sit?”

            “Ahh..sure..”

      “Thanks.” Aku segera menempati bangku ku yang bernomer 47. Ternyata aku memiliki teman mengobrol selama perjalanan nanti. Sepertinya orang asing ini juga akan ke Verona, tapi dia tidak terlihat seperti orang Itali. Sambil menatapnya aneh aku hanya mampu tersenyum sambil merundukan kepalaku. Aku tidak bisa menebak berapa umrunya atau dia sepantaran dengan siapa. Karena bagiku semua orang asing wajahnya selalu lebih tua di banding dengan umurnya.

          “So, where are you going?” Tanya bule itu kepo.

          “Venice, but I’ll stay in Verona. What about you?”

          “Venice too, but I’m not sure where I’ll go after that.”

          “Nice…” ucapku datar. Dan sepertinya bule itu terheran-heran dengan jawabanku barusan. Aku yang duduk tepat di pinggir jendela menatap keluar dimana langit-langit sudah mulai gelap. Aku akan melihat bintang-bintang itu dari dekat malam ini, selamat tinggal Jakarta. Hatiku berbicara sesak, mataku membendung air yang sudah tidak mampu untuk di tahan. Sementara seorang pramugari tengah menjelaskan dan memberitahukan untuk memasang sabuk pengaman dan lainnya.

            Aku merasakan pesawat sudah mulai bergerak perlahan. Semakin lama semakin cepat dengan suara gemuruh yang membuat pesawat sedikit bergetar. Lampu-lampu kota mulai terlihat dari langit. Begitu cantik. Sambil mendengarkan alunan musik-musik indah yang diciptakan oleh Mozart, ku nikmati segelas soft drink yang di sediakan oleh maskapai terbaik di Indonesia ini.

          “Hey, what’s wrong with you? I don’t mean to disturb you but can we be a good friend while the plane’s take off?” Sahut orang asing itu kepadaku. “By the way, my name is  Glen.”

            “Glen, what a nice name.. I’m Nada..”

            “Pretty.. what are you listening?

          “Mozart, it makes me comfort anytime and anywhere I hear it.” Ucapku singkat sambil membuka salah satu headset yang terpasang di telingaku. “So, did you ever stay in Jakarta?”

           “I know, I like it too.. 2 weeks, just curious with Bali island actually.. I’m from California.”

           “Cool, but why you’re not going back to California?” tanyaku sedikit penasaran.



        “I’ve promise someone to meet her in Venice.” Dan percakapan itu pun terus berlangsung selama beberapa jam. Jika di perhatikan orang asing ini tidak begitu tua. Dia pun telah menjelaskan jika umurnya masih 22 tahun. Dengan mata hazelnut dan lesung pipi itu ketika tersenyum dia terlihat manis. Sebuah keberuntungan bagiku bisa sebangku dengannya, mungkin.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net