“Hoooaaammhhh…” Aku meregangkan
badan sambil menoleh ke arah sekeliling. Aku tersentak melihat seisi pesawat
telah kosong dan tidak ada satu nyawa pun disitu. “Cuma gue??!!! Ini manusia
yang lain pada kemana??!!” aku teriak sejadi-jadinya.
“Mbak, maaf yang lain belum lama turun, kita sedang
transit di Doha Airport selama 3 jam.” Pramugari itu memberitahukan dengan
ramah.
“Oh iya iya, aduuh maaf ya mbak.” Aku segera beranjak
turun dari tempat duduk dan berjalan keluar dari perut pesawat yang sudah
setengah jalan membawaku terbang menuju kota impian. Seketika mataku takjub
melihat bandara sebesar dan sebagus ini, dengan kualitas dan cita rasa seni
arsitekstur yang sangat berkelas. Sambil berjalan pelan aku mencari-cari toilet
yang ada di
bandara tersebut. Aku rasa transit 3 jam hanya cukup untuk buang air kecil. Dimana sejam setengah akan habis untuk mencari lokasi toilet dan setengah jam lagi habis untuk mencari gerbang dimana aku akan kembali ke pesawat. Tapi ini luar negeri, meskipun seluas ini segala sesuatunya jauh lebih mudah.
bandara tersebut. Aku rasa transit 3 jam hanya cukup untuk buang air kecil. Dimana sejam setengah akan habis untuk mencari lokasi toilet dan setengah jam lagi habis untuk mencari gerbang dimana aku akan kembali ke pesawat. Tapi ini luar negeri, meskipun seluas ini segala sesuatunya jauh lebih mudah.
Lelah berkeliling dan bertanya-tanya dimana toilet itu
berada. Akhirnya aku menemukan sebuah toilet yang cukup besar dan bersih.
“Sikat gigi dulu kali ya..” Aku berbicara sendiri dengan
pantulan bayanganku di cermin. Setelah selesai aku mulai merapihkan pakaianku
kembali. Sambil menunggu keberangkatanku selanjutnya menuju Venice. Aku sudah
tidak sabar untuk menginjakan kaki disana. Memulai cerita baru dalam kertas putih
di hidupku dan menjadikannya sempurna.
Sementara menunggu keberangkatan selanjutnya menuju
Venice, aku mengeluarkan buku harianku seraya mengisi waktu luang. Ku buka
tepat dibagian tengah buku yang terjanggal oleh selembar foto. Aku tidak hanya
sekali merasakan jatuh cinta. Namun entah mengapa aku merasa bahwa lelaki di
foto inilah cinta pertamaku. Dia memiliki sebersit senyum manis, dengan mata
sayup tapi menenangkan. Wajahnya begitu damai, suaranya selembut sutra. Setiap
kali memperhatikannya dari kejauhan itu selalu menjadi kebahagiaan tersendiri
untukku. Seakan kutemukan rumah terbaik dihatiku. Namun aku hanya mampu diam
atas perasaanku.
“Hey I’m looking for you Nada! Finally I found you, I
thought you were missing!.” Sahut Glen dengan intonasi nada cemas.
“Glen! hahaha of coarse not. I’m not a kid though” Aku
tersenyum kecil.
“What is that?”
“What?” tanyaku heran.
“Something that you hold?” Glen selalu berusaha ingin
tahu segala hal tentangku. Termasuk sebuah potret seseorang yang berada dalam
genggamanku ini.
“Oh, it’s nothing, just a piece of paper.” Dengan
tiba-tiba Glen menarik foto itu dalam genggamanku yang begitu erat. sehingga
ketika Glen merebutnya foto itu kini telah terbelah menjadi dua. “GLENNN!! WHAT
HAVE YOU DONE!!???”
“Nada…. I’m so sorry! I wasn’t mean to do that, let me
fix it.” Ucap Glen dengan suara melemah. Seakan ketakutan melihatku marah. Lalu
Glen berusaha menyodorkan tangan nya untuk mengambil sobekan foto yang
sebelahnya.
“GAK USAH!!! CUMA INI FOTO YANG GUE PUNYA!!! DAN LO
RUSAKIN!! LO SELALU GANGGU GUE!!! PERGI!!!” aku tidak mampu lagi menahan amarah
yang mencuat dengan segala emosi kukeluarkan rasa kesal itu di tengah-tengah
ribuan orang yang lalu lalang dan singgah di bandara. Segera saja aku pergi
meninggalkan bule aneh itu. Tanpa peduli dia mengerti atau tidak dengan kalimat
yang baru saja aku ucapkan.
Tidak lama setelah itu pengumuman keberangkatan menuju
Venice pun terdengar. Aku mulai dengan segera mempercepat langkahku menuju
pesawat impian. Setibanya di pesawat aku melihat Glen berada lebih dulu di
tempat duduk. Ia memperhatikanku dari kejauhan sambil berusaha tersenyum
canggung. Tapi aku hanya mengacuhkannya seolah tidak melihat siapa pun disana.
Aku berjalan lalu duduk seolah tidak melihat ada siapa pun disampingku. Kembali memasang headset dan menyetel lagu.
“Nada… I’m so…” Glen berbicara menatapku. Aku memejamkan
mata menghadap kearah jendela pesawat disebelah kanan. Aku benar-benar belum
bisa memaafkan tingkahnya yang selalu ingin tahu. Pesawat mulai terbang,
melintasi samudera, membawaku menuju istana awan. Rasanya mana bisa tahan
ketika aku harus duduk bersebelahan dengan orang yang saat ini membuatku kesal.
Namun ternyata usaha Glen tidak hanya sampai disitu. Dia mengeluarkan sebuah
kertas kecil dan pulpen, lalu dia mulai menulis entah menulis apa dan
memberikannya kepadaku. Dengan mata sedikit mengintip kearah kiri aku
melihatnya menaruh kertas kecil itu dalam genggaman. Sengaja ku gerakan tubuhku
berpindah posisi, melebarkan genggamanku agar seolah kertas itu terjatuh.
Setelah akhirnya melewati perjalanan panjang selama
kurang lebih 5 jam. Aku pun bersama penumpang lainnya tiba di Bandara
Internasional Fiumicino. Sementara seluruh penumpang lain mulai menyibukan diri
mengambil tas di locker pesawat, aku masih berusaha membuka mataku dari mimpi
indah dan mengumpulkan nyawa sedikit demi sedikit. Saat ku lihat sepertinya
Glen sudah tidak berada di sebelahku lagi. Tiba-tiba aku teringat dengan
selembar kertas kecil yang Ia selipkan di tanganku. Aku berusaha mengambilnya
kembali sambil berusaha merogoh-rogoh lantai kolong kursi yang ada di depanku.
“Dapet!!!” Ucapku keras tanpa mempedulikan bahasa apa yang aku gunakan.“Eh, mana sih??” Aku yang masih sibuk sendiri dengan harta karun itu tanpa sadar bahwa ternyata seisi pesawat hampir kosong. Aku berlari keluar dengan tidak sabarnya untuk segera menginjakan kakiku di Negara yang mendapat julukan Negara spaghetti.
“ITALIIIIIIIIIIII!!!!!” tanpa memperdulikan orang-orang
yang lalu lalang dan memperhatikanku seolah mereka seperti melihat manusia aneh
yang tidak jelas asal-usulnya entah darimana. “Diary…. Diary gue…!” sambil
merogoh-rogoh tas selempangku aku mencari-cari keberadaan buku Diary yang
ukurannya hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa.
BBRRUUKKK!!
“Aduh..!
Sorry sorry, gue gak sengaja..” Tasku terjatuh, menabrak orang asing saat aku
tengah sibuk mengobrak-abrik isi tasku sambil berlari-lari kecil.
“Va
bene..” Ucapnya dalam bahasa Itali.
“Hah??
Aduuhh Beben??? Iya aku Nada, salam kenal ya... Maaf aku tabrak kamu tadi gak sengaja.”
Dengan penuh rasa panik aku terus berbicara tanpa mempedulikan orang asing itu
mengerti atau tidak dengan bahasa yang aku gunakan.
“Hahahahaha!
Lo lucu ya, va bene dalam bahasa Itali artinya it’s okay. Dan nama gue Wayne bukan Beben. Lo dari Jakarta???” Lalu
lelaki berwajah china oriental itu tertawa lepas. Aku memperhatikannya begitu
dalam. Seakan wajahnya sudah tidak begitu asing lagi bagiku. Kutatap matanya
seolah aku menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Namun aku berusaha
mengelak dan aku mengabaikan semua prasangka aneh yang lalu-lalang di dalam
benakku.
“Ohh,
gitu yaaa.. hehe iya gue dari Jakarta.” Aku yang merasa begitu bodohnya hanya
mampu tersenyum kecil dengan ekspresi muka penuh kebodohan.
“Tadi
nama lo siapa?” Tanya nya dengan intonasi agak sedikit ketus.
“Nada…
Almira Shaki Nada..” Tanpa memperdulikan reaksi cowok yang memiliki mata sipit
itu aku masih tetap terfokus pada isi tasku.
“Iya
hati gue hilang, kayaknya ketinggalan di Jakarta.” Ceplos ku asal. Dan saat aku
melihat ke arahnya, lelaki ini seperti mengekspresikan wajah bengis dan jijik. Aku
menahan tawa. “Nah ketemu!”
“Diary?”
lelaki yang memiliki nama agak kebarat-baratan tapi wajah kechina-chinaan ini
seperti heran ketika aku menggenggam buku diary ini.
“Kenapa?”
“Masih
jadul…” sambil berjalan meninggalkan kerumunan. Aku masih memikirkan apa yang
di maksud Wayne dengan ucapannya barusan.
“Eh
tunggu!!! Maksudnya apa ngatain gue jadul!?” aku berlari kecil berusaha
mensejajarkan langkahku dengannya.
“Gak
kenapa-kenapa, jadi karna kita sama-sama dari Jakarta. Welcome to Venice…” Ucap
Wayne tersenyum.
“IYA!!!
VENICEEEEE!!!” Dan kami mulai melangkah keluar menuju tempat yang jauh lebih
luas dari Bandara Internasional Fiumicino. Sebuah tempat yang akan menjadi
saksi bisu perjalanan hidupku selama di Negeri asing ini. Berjalan kaki menuju Stasiun
kereta Santa Lucia, setelah 10 menit langsung melaju menuju Verona.
“Jadi,
kamu kuliah disini udah 2 tahun? Dan kemarin abis liburan ke Jakarta??” tanyaku
terheran-heran pada Wayne yang selama perjalanan begitu detailnya menceritakan
tentang keindahan kota Venice dan Verona.
“Iya,
pokoknya Lo harus jalan-jalan deh sebelum masuk kuliah. Terutama di Verona, pernah
denger patung Juliet yang terkenal itu?” sambil menikmati segelas coklat panas
Wayne bertanya kepadaku.
“Iya!
Pernah! Yang katanya kalo kita ngirim surat cinta yang di selipin di
lubang-lubang dinding rumah Juliet, nantinya surat itu bakalan sampe ke orang
yang kita sayang?” aku begitu antusias membahas hal ini.
“Dan
bakalan dapet balasan surat cinta dari agen nya Juliet.”
“Bukannya
Juliet udah mati ratusan tahun yang lalu?” air muka ku berubah ketakutan.
“Agen
nya bodoh! Bukan Julietnya…” Wayne mulai kesal.
Setelah
melalui perjalanan selama sejam, aku akhirnya sampai di Verona. Kota yang
banyak orang bicarakan tentang keindahan arsitekturnya dan sejarah percintaan
yang pernah di ceritakan oleh William Shakespears dalam bukunya yang berjudul
Romeo & Juliet. Sepasang remaja berumur 17 tahun yang mati mengenaskan
karna cinta. Tanpa sengaja bayangannya kembali hadir dalam benakku. Menghantui segenap
perjalanan ku yang begitu menyenangkan, berubah menjadi kelam.
“Jadi
sekarang kita kemana?”
“Aku
di tujukan ke sebuah tempat tinggal di jalan Giardini Lombroso, Postazion 17.” Sambil
menyodorkan sebuah tulisan di kertas kecil itu, dengan intonasi yang terbata-bata
saat mengeja alamat jalan, aku menggaruk-garukan kepalaku yang tidak gatal itu.
“Kenapa?”
tanya Wayne heran.
“Baca
alamat tempat tinggal sendiri aja kayak orang stroke, lalu gimana kalo aku
nyasar? Lama-lama pake bahasa tangan karna harus pura-pura bisu.” Wajahku memelas.
“Hahahahaha!
Gue tau kok itu. Kalo gak salah Galibardi House. Sini gue anter.” Aku berteriak
dalam hati teramat bersyukur bertemu orang berasal dari Negara yang sama di
Negara asing ini dan masih mau menolong satu sama lain. Perasaanku jauh lebih
tenang setidaknya, untuk saat ini. Wayne segera mengantarku menuju jalan yang
aku tunjukan tadi. Alamat itu aku dapat dari sebuah kertas yang Glen tinggalkan
untukku saat di pesawat, sebelum dia menghilang. Maaf sudah semarah itu sama Lo, Glen. Kalo Lo gak ada, pasti Gue udah
gak tau mau tidur dimana. Ujarku dalam hati dengan perasaan bersalah.
0 comments:
Post a Comment