Monday, December 30, 2013

Selamat Datang, Verona (Part II)

Posted by Unknown at 1:00 PM
          “Hoooaaammhhh…” Aku meregangkan badan sambil menoleh ke arah sekeliling. Aku tersentak melihat seisi pesawat telah kosong dan tidak ada satu nyawa pun disitu. “Cuma gue??!!! Ini manusia yang lain pada kemana??!!” aku teriak sejadi-jadinya.
          
          “Mbak, maaf yang lain belum lama turun, kita sedang transit di Doha Airport selama 3 jam.” Pramugari itu memberitahukan dengan ramah.
            
            “Oh iya iya, aduuh maaf ya mbak.” Aku segera beranjak turun dari tempat duduk dan berjalan keluar dari perut pesawat yang sudah setengah jalan membawaku terbang menuju kota impian. Seketika mataku takjub melihat bandara sebesar dan sebagus ini, dengan kualitas dan cita rasa seni arsitekstur yang sangat berkelas. Sambil berjalan pelan aku mencari-cari toilet yang ada di
bandara tersebut. Aku rasa transit 3 jam hanya cukup untuk buang air kecil. Dimana sejam setengah akan habis untuk mencari lokasi toilet dan setengah jam lagi habis untuk mencari gerbang dimana aku akan kembali ke pesawat. Tapi ini luar negeri, meskipun seluas ini segala sesuatunya jauh lebih mudah.
           
             Lelah berkeliling dan bertanya-tanya dimana toilet itu berada. Akhirnya aku menemukan sebuah toilet yang cukup besar dan bersih.

            “Sikat gigi dulu kali ya..” Aku berbicara sendiri dengan pantulan bayanganku di cermin. Setelah selesai aku mulai merapihkan pakaianku kembali. Sambil menunggu keberangkatanku selanjutnya menuju Venice. Aku sudah tidak sabar untuk menginjakan kaki disana. Memulai cerita baru dalam kertas putih di hidupku dan menjadikannya sempurna.

            Sementara menunggu keberangkatan selanjutnya menuju Venice, aku mengeluarkan buku harianku seraya mengisi waktu luang. Ku buka tepat dibagian tengah buku yang terjanggal oleh selembar foto. Aku tidak hanya sekali merasakan jatuh cinta. Namun entah mengapa aku merasa bahwa lelaki di foto inilah cinta pertamaku. Dia memiliki sebersit senyum manis, dengan mata sayup tapi menenangkan. Wajahnya begitu damai, suaranya selembut sutra. Setiap kali memperhatikannya dari kejauhan itu selalu menjadi kebahagiaan tersendiri untukku. Seakan kutemukan rumah terbaik dihatiku. Namun aku hanya mampu diam atas perasaanku.

          “Hey I’m looking for you Nada! Finally I found you, I thought you were missing!.” Sahut Glen dengan intonasi nada cemas.

            “Glen! hahaha of coarse not. I’m not a kid though” Aku tersenyum kecil.

            “What is that?”

            “What?” tanyaku heran.

          “Something that you hold?” Glen selalu berusaha ingin tahu segala hal tentangku. Termasuk sebuah potret seseorang yang berada dalam genggamanku ini.

            “Oh, it’s nothing, just a piece of paper.” Dengan tiba-tiba Glen menarik foto itu dalam genggamanku yang begitu erat. sehingga ketika Glen merebutnya foto itu kini telah terbelah menjadi dua. “GLENNN!! WHAT HAVE YOU DONE!!???”

            “Nada…. I’m so sorry! I wasn’t mean to do that, let me fix it.” Ucap Glen dengan suara melemah. Seakan ketakutan melihatku marah. Lalu Glen berusaha menyodorkan tangan nya untuk mengambil sobekan foto yang sebelahnya.

            “GAK USAH!!! CUMA INI FOTO YANG GUE PUNYA!!! DAN LO RUSAKIN!! LO SELALU GANGGU GUE!!! PERGI!!!” aku tidak mampu lagi menahan amarah yang mencuat dengan segala emosi kukeluarkan rasa kesal itu di tengah-tengah ribuan orang yang lalu lalang dan singgah di bandara. Segera saja aku pergi meninggalkan bule aneh itu. Tanpa peduli dia mengerti atau tidak dengan kalimat yang baru saja aku ucapkan.

            Tidak lama setelah itu pengumuman keberangkatan menuju Venice pun terdengar. Aku mulai dengan segera mempercepat langkahku menuju pesawat impian. Setibanya di pesawat aku melihat Glen berada lebih dulu di tempat duduk. Ia memperhatikanku dari kejauhan sambil berusaha tersenyum canggung. Tapi aku hanya mengacuhkannya seolah tidak melihat siapa pun disana. Aku berjalan lalu duduk seolah tidak melihat ada siapa pun disampingku. Kembali memasang headset dan menyetel lagu.

            “Nada… I’m so…” Glen berbicara menatapku. Aku memejamkan mata menghadap kearah jendela pesawat disebelah kanan. Aku benar-benar belum bisa memaafkan tingkahnya yang selalu ingin tahu. Pesawat mulai terbang, melintasi samudera, membawaku menuju istana awan. Rasanya mana bisa tahan ketika aku harus duduk bersebelahan dengan orang yang saat ini membuatku kesal. 

           Namun ternyata usaha Glen tidak hanya sampai disitu. Dia mengeluarkan sebuah kertas kecil dan pulpen, lalu dia mulai menulis entah menulis apa dan memberikannya kepadaku. Dengan mata sedikit mengintip kearah kiri aku melihatnya menaruh kertas kecil itu dalam genggaman. Sengaja ku gerakan tubuhku berpindah posisi, melebarkan genggamanku agar seolah kertas itu terjatuh.

         Setelah akhirnya melewati perjalanan panjang selama kurang lebih 5 jam. Aku pun bersama penumpang lainnya tiba di Bandara Internasional Fiumicino. Sementara seluruh penumpang lain mulai menyibukan diri mengambil tas di locker pesawat, aku masih berusaha membuka mataku dari mimpi indah dan mengumpulkan nyawa sedikit demi sedikit. Saat ku lihat sepertinya Glen sudah tidak berada di sebelahku lagi. Tiba-tiba aku teringat dengan selembar kertas kecil yang Ia selipkan di tanganku. Aku berusaha mengambilnya kembali sambil berusaha merogoh-rogoh lantai kolong kursi yang ada di depanku.

            “Dapet!!!” Ucapku keras tanpa mempedulikan bahasa apa yang aku gunakan.“Eh, mana sih??” Aku yang masih sibuk sendiri dengan harta karun itu tanpa sadar bahwa ternyata seisi pesawat hampir kosong. Aku berlari keluar dengan tidak sabarnya untuk segera menginjakan kakiku di Negara yang mendapat julukan Negara spaghetti.

          “ITALIIIIIIIIIIII!!!!!” tanpa memperdulikan orang-orang yang lalu lalang dan memperhatikanku seolah mereka seperti melihat manusia aneh yang tidak jelas asal-usulnya entah darimana. “Diary…. Diary gue…!” sambil merogoh-rogoh tas selempangku aku mencari-cari keberadaan buku Diary yang ukurannya hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa.
BBRRUUKKK!!

“Aduh..! Sorry sorry, gue gak sengaja..” Tasku terjatuh, menabrak orang asing saat aku tengah sibuk mengobrak-abrik isi tasku sambil berlari-lari kecil.

“Va bene..” Ucapnya dalam bahasa Itali.

“Hah?? Aduuhh Beben??? Iya aku Nada, salam kenal ya... Maaf aku tabrak kamu tadi gak sengaja.” Dengan penuh rasa panik aku terus berbicara tanpa mempedulikan orang asing itu mengerti atau tidak dengan bahasa yang aku gunakan.

“Hahahahaha! Lo lucu ya, va bene dalam bahasa Itali artinya it’s okay. Dan nama gue  Wayne bukan Beben. Lo dari Jakarta???” Lalu lelaki berwajah china oriental itu tertawa lepas. Aku memperhatikannya begitu dalam. Seakan wajahnya sudah tidak begitu asing lagi bagiku. Kutatap matanya seolah aku menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Namun aku berusaha mengelak dan aku mengabaikan semua prasangka aneh yang lalu-lalang di dalam benakku.

“Ohh, gitu yaaa.. hehe iya gue dari Jakarta.” Aku yang merasa begitu bodohnya hanya mampu tersenyum kecil dengan ekspresi muka penuh kebodohan.

“Tadi nama lo siapa?” Tanya nya dengan intonasi agak sedikit ketus.

“Nada… Almira Shaki Nada..” Tanpa memperdulikan reaksi cowok yang memiliki mata sipit itu aku masih tetap terfokus pada isi tasku.

“Lo nyari apa? Ada yang hilang?”

“Iya hati gue hilang, kayaknya ketinggalan di Jakarta.” Ceplos ku asal. Dan saat aku melihat ke arahnya, lelaki ini seperti mengekspresikan wajah bengis dan jijik. Aku menahan tawa.  “Nah ketemu!”

“Diary?” lelaki yang memiliki nama agak kebarat-baratan tapi wajah kechina-chinaan ini seperti heran ketika aku menggenggam buku diary ini.

“Kenapa?”

“Masih jadul…” sambil berjalan meninggalkan kerumunan. Aku masih memikirkan apa yang di maksud Wayne dengan ucapannya barusan.

“Eh tunggu!!! Maksudnya apa ngatain gue jadul!?” aku berlari kecil berusaha mensejajarkan langkahku dengannya.

“Gak kenapa-kenapa, jadi karna kita sama-sama dari Jakarta. Welcome to Venice…” Ucap Wayne tersenyum.

“IYA!!! VENICEEEEE!!!” Dan kami mulai melangkah keluar menuju tempat yang jauh lebih luas dari Bandara Internasional Fiumicino. Sebuah tempat yang akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupku selama di Negeri asing ini. Berjalan kaki menuju Stasiun kereta Santa Lucia, setelah 10 menit langsung melaju menuju Verona.

“Jadi, kamu kuliah disini udah 2 tahun? Dan kemarin abis liburan ke Jakarta??” tanyaku terheran-heran pada Wayne yang selama perjalanan begitu detailnya menceritakan tentang keindahan kota Venice dan Verona.

“Iya, pokoknya Lo harus jalan-jalan deh sebelum masuk kuliah. Terutama di Verona, pernah denger patung Juliet yang terkenal itu?” sambil menikmati segelas coklat panas Wayne bertanya kepadaku.

“Iya! Pernah! Yang katanya kalo kita ngirim surat cinta yang di selipin di lubang-lubang dinding rumah Juliet, nantinya surat itu bakalan sampe ke orang yang kita sayang?” aku begitu antusias membahas hal ini.
“Dan bakalan dapet balasan surat cinta dari agen nya Juliet.”

“Bukannya Juliet udah mati ratusan tahun yang lalu?” air muka ku berubah ketakutan.

“Agen nya bodoh! Bukan Julietnya…” Wayne mulai kesal.

Setelah melalui perjalanan selama sejam, aku akhirnya sampai di Verona. Kota yang banyak orang bicarakan tentang keindahan arsitekturnya dan sejarah percintaan yang pernah di ceritakan oleh William Shakespears dalam bukunya yang berjudul Romeo & Juliet. Sepasang remaja berumur 17 tahun yang mati mengenaskan karna cinta. Tanpa sengaja bayangannya kembali hadir dalam benakku. Menghantui segenap perjalanan ku yang begitu menyenangkan, berubah menjadi kelam.

“Jadi sekarang kita kemana?”

“Aku di tujukan ke sebuah tempat tinggal di jalan Giardini Lombroso, Postazion 17.” Sambil menyodorkan sebuah tulisan di kertas kecil itu, dengan intonasi yang terbata-bata saat mengeja alamat jalan, aku menggaruk-garukan kepalaku yang tidak gatal itu.

“Kenapa?” tanya Wayne heran.

“Baca alamat tempat tinggal sendiri aja kayak orang stroke, lalu gimana kalo aku nyasar? Lama-lama pake bahasa tangan karna harus pura-pura bisu.” Wajahku memelas.



“Hahahahaha! Gue tau kok itu. Kalo gak salah Galibardi House. Sini gue anter.” Aku berteriak dalam hati teramat bersyukur bertemu orang berasal dari Negara yang sama di Negara asing ini dan masih mau menolong satu sama lain. Perasaanku jauh lebih tenang setidaknya, untuk saat ini. Wayne segera mengantarku menuju jalan yang aku tunjukan tadi. Alamat itu aku dapat dari sebuah kertas yang Glen tinggalkan untukku saat di pesawat, sebelum dia menghilang. Maaf sudah semarah itu sama Lo, Glen. Kalo Lo gak ada, pasti Gue udah gak tau mau tidur dimana. Ujarku dalam hati dengan perasaan bersalah.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net