“Jadi Lo dapet beasiswa
apa di Verona?” sambil berjalan menyusuri kota Verona,
melihat-lihat rumah dan bangunan-bangunan lain yang begitu klasik dan tua.
Wayne mencoba membuka percakapan diantara kami.
“Seni, di Accademia di Belle Arti Gian Bettino Cignaroli” Jawabku menatap lurus ke arah
matanya.
“Mau jadi pelukis?”
“Pemusik sih, tapi waktu itu ujian piano untuk sertifikat
internasional nya gak lulus.” Aku menunduk malu.
“Mungkin emang bukan rejeki Lo.” Tanpa ragu Wayne
menepuk-nepuk pundakku, seolah kami seperti sudah berteman lama. Aku yang
selalu diam-diam memperhatikan Wayne seperti ada yang janggal disana. Aku memang
seperti pernah melihatnya. Tapi, dimana? Wajah nya sangat tidak asing lagi
bagiku. Pikiranku terus mengulang pertanyaan yang sama.