“Jadi Lo dapet beasiswa
apa di Verona?” sambil berjalan menyusuri kota Verona,
melihat-lihat rumah dan bangunan-bangunan lain yang begitu klasik dan tua.
Wayne mencoba membuka percakapan diantara kami.
“Seni, di Accademia di Belle Arti Gian Bettino Cignaroli” Jawabku menatap lurus ke arah
matanya.
“Mau jadi pelukis?”
“Pemusik sih, tapi waktu itu ujian piano untuk sertifikat
internasional nya gak lulus.” Aku menunduk malu.
“Mungkin emang bukan rejeki Lo.” Tanpa ragu Wayne
menepuk-nepuk pundakku, seolah kami seperti sudah berteman lama. Aku yang
selalu diam-diam memperhatikan Wayne seperti ada yang janggal disana. Aku memang
seperti pernah melihatnya. Tapi, dimana? Wajah nya sangat tidak asing lagi
bagiku. Pikiranku terus mengulang pertanyaan yang sama.
“Yang pentingkan udah disini, hehe..” Kami terus berjalan
memperhatikan setiap gerak-gerik masyarakat Verona, di sepanjang jalan begitu
banyak toko bunga dan buah, dan juga sebuah kedai jajanan murah. Tempat wisata
di Verona memang tidak secemerlang seperti di Venice, dengan keindahan
arsitektur bangunan nya yang bisa dinikmati di atas Gondola serta banyak
toko-toko terapung disana dan siapa yang tidak tahu menara miring Pisa di Roma,
Itali? Hanya saja aku lebih tertarik dengan sejarah di kota kecil ini.
Tiba-tiba Wayne menghentikan langkahnya. “Kenapa Wayne?”
“Gelato?*” Wayne tersenyum. Kali ini aku tau bahasa Itali
yang Wayne maksudkan. (*Ice Cream?)
“Vuoi! Sapore di cioccolato!*” Aku berteriak kegirangan.
(*Mau! Rasa coklat!)
“Itu bisa bahasa Itali hahaha!”
“Bisa kalo Lo nanya nya soal es krim. Hehehe…” Kami
berjalan menghampiri sebuah tukang es krim di pinggir jalan yang tidak jauh
dari tempat aku dan Wayne berdiri. Lalu, Wayne memesan 2 es krim rasa coklat
untuk ku dan dia. Kita lalu meneruskan perjalanan menuju rumah Juliet. Tidak sampai
30 menit.
“Nad….” Aku tak menghiraukan sapaan Wayne karna terlalu
sibuk melumat es krim pinggir jalan ternikmat, lain dengan es krim di Jakarta
es tung-tungnya bikin batuk. “Nada!”
“Eh… Iya, kenapa Wayne?” Aku tersentak.
“Kita udah sampe.. Tuh… liat…” Tangan Wayne menunjuk
lurus kearah patung Juliet yang terlihat tinggal beberapa langkah lagi dari
hadapanku dan melewati sebuah kolong jembatan kecil.
“RUMAH JULIET, WAYNE!!!!” saking girangnya tanpa berfikir
panjang aku langsung berlari meninggalkan Wayne di belakangku. Dan setelah aku
melewati jembatan itu. Aku segera menghentikan langkahku. Angin musim dingin
mengibas bulu kudukku, merinding. Aku melihat beberapa orang wanita menangis
tersedu-sedu, ada yang menangis sambil terduduk di sebuah bangku panjang yang
menghadap ke tembok rumah Juliet, ada yang menangis meraung sambil menempelkan
surat cinta itu di dinding, menangis sambil berbicara dengan bahasa Prancis. Yang
paling aneh, terlihat beberapa wanita yang mengantri untuk foto bersama patung
Juliet dengan wajah sembab, dan mereka berfoto sambil memegang payudara kanan
Juliet.
“Kenapa berhenti?” Tanya Wayne bingung.
“Mereka semua, kesurupan?” wajahku memucat. “Apa lagi
yang foto itu, kenapa dada Juliet yang di pegang?”
“Hahaha… jadi Lo belum tau cerita mitos yang ini?” Wayne
bertanya, dan aku hanya menggelengkan kepala. “Jadi, orang-orang dan para turis
disini percaya kalo mereka megang dada si patung Juliet itu sambil ngucap
permohonan, nanti apa yang mereka minta pasti di kabulin.” Wayne menjelaskan
dengan intonasi melembut.
“Idih… Memang Tuhan nya gak bisa ngabulin permintaan dia?”
“Namanya juga untuk kesenengan aja kok.” Wayne
mengacak-acak rambutku. “Ya udah, selamat menulis surat cinta untuk Juliet..
Gue duduk disitu ya.” Aku hanya bisa mengangguk, bingung setelah sampai sini
apa yang akan aku lakukan. Demi apa pun aku sangat takjub melihat keindahan
kota kecil ini, begitu asri dengan budaya nya yang unik dan tempat ini,
memiliki sejuta cerita cinta yang Romeo dan Juliet simpan. Aku sendiri masih
bingun apa cerita itu nyata atau fiktif belaka.
Aku berjalan mendekati tembok rumah Juliet yang sudah di
penuhi dengan tempelan-tempelan surat keputusasaan manusia-manusia disini terhadap
cinta sejati mereka yang hilang atau mati? Entahlah. Tanpa sengaja, mataku
terpaku pada sebuah surat yang di tempelkan di tembok itu bertuliskan “Quando
l'amore non è mai stato lì per noi”. Yang jika diartikan ke dalam bahasa
Indonesia adalah “Ketika Cinta Tidak Pernah Ada Untuk Kita”. Hatiku benar-benar
teriris, mata dan hidungku mulai memanas, seolah akan meledakkan air mata yang
tidak mungkin sanggup ku bendung. Kalimat ini seketika mengingatkanku pada
seseorang yang teramat ku cintai di Jakarta. Cinta yang tidak pernah ada untuk
kami, bukan karna aku takut mengungkapkan perasaanku. Hanya saja, aku tidak
mungkin mengungkapkan perasaanku kepada seseorang yang telah memiliki kekasih. Ya Tuhaaan, perasaan ini benar-benar salah!
Batinku berteriak.
Ku lirik perlahan lelaki yang saat ini tengah menemaniku
mengawali cerita di Negara Spaghetti. Melihatnya tengah mendengarkan musik
dengan headphone yang menggantung di telinganya sambil menggoyang-goyangkan
kepalanya pelan, maju-mundur. Setelah itu, air mata ini jatuh membasahi pipiku.
Ku keluarkan sebuah buku bersama dengan kertas polos dari dalam tasku, bersama
dengan pulpen hitam yang akan membawaku melantunkan kalimat kesedihan atas
gagalnya perasaan ini.
Dear, Juliet.
Telah ku
bawa pergi cintaku yang gagal ini menuju rumahmu, sama seperti kegagalan Romeo
saat jatuh cinta kepada orang yang salah. Tapi apa mungkin perasaan ini yang
bersalah? Apa yang hati ini tahu tentang cinta? Setahuku, cinta datang karna
ketulusan itu ada. Namun, ketulusan itu tidak akan pernah terlihat jika yang
kita cintai tidak berbalik mencintai kita bukan? Lantas bagaimana cara agar
membuatnya mengerti. Tapi, aku membawa cintaku kesini bukan untuk di
pertahankan, melainkan aku akan melepaskan hatiku, ku biarkan dan ku relakan
perasaan ini mati untuknya. Mati bersama racun yang Romeo tenggak saat
melihatmu mati suri, Juliet. Ku kubur cintaku disini. Addio, Agung.
-ASN
Kulipat
kertas itu menjadi bentuk persegi, ku raba dinding rumah Juliet yang bertembokan
batu bata yang tidak beraturan. Saat ku sentuh, sebuah batu bergerak seperti
longgar dan bisa di buka. Aku pun menarik batu itu dari tembok rumah Juliet,
berharap semoga setelah batu ini di tarik, rumah nya tidak rubuh. Ternyata patahan
batu bata yang sudah sedikit terkikis, menutupi sebuah lubang di tembok itu. Segera
saja ku letakan surat perpisahan itu di dalam dinding rumah Juliet. Ku tutup
kembali dengan batu yang ku ambil tadi. Semoga seiring berjalannya waktu,
perasaanku akan sama seperti surat ini. Terkikis habis dimakan rayap, lalu
hilang tanpa jejak untuk selamanya.
Setelah beberapa menit terdiam dengan dahi menempel pada
tembok, Aku menoleh ke sebelah kanan, menyadari bahwa ada seseorang yang
menyodorkan tissue kepadaku, Wayne.
“Kesurupan?” tanya Wayne sambil cekikikan bercanda.
“Sialan Lo.” Aku mengambil tissue yang Ia sodorkan
untukku. Ku usap air mata yang sempat jatuh sia-sia.
“Mau foto sama patung Julietnya? Sambil minta permohonan
gih.”
“Berarti sambil pegang dada dia?” kerutan di dahi ku
bertambah selusin.
“Iyap… tepat sekali…” Ucap Wayne sigap.
“Idih, ogah… Lagian Gue juga gak bawa kamera, lain waktu
mungkin.” Aku berjalan lesu sambil meninggalkan kerumunan orang-orang yang
mulai berdatangan menuju House of Juliet. “Sekarang kita kemana?”
“Laper?” Sahut Wayne dengan wajah sumringah.
“Lumayan…” Lalu mata kami saling berpandangan menatap
satu sama lain. Lagi-lagi mata yang Wayne miliki seperti mata yang pernah aku
lihat. Pikiran itu kembali muncul. Pertanyaan-pertanyaan seputar ‘Siapakah dia sebenarnya?’ kembali hadir
dalam otakku.
“Ayo kita nikmatin Spaghetti, Pizza dan Lasagna asli dari
Negara asalnya ini!” Wayne sangat-sangat antusias saat mengajakku makan malam. Dan
kaki ku kini mengikuti langkah kemana hati ini akan pergi. Menikmati masa move
on lalu lajang, atau segera mencari rumah baru untuk berlindung? Entahlah,
biarkan hati kecil ini yang bicara dan memilih sendiri jalannya.
0 comments:
Post a Comment