Saturday, January 4, 2014

Dear, Juliet! (Part II)

Posted by Unknown at 5:50 PM
         “Jadi Lo dapet beasiswa apa di Verona?” sambil berjalan menyusuri kota Verona, melihat-lihat rumah dan bangunan-bangunan lain yang begitu klasik dan tua. Wayne mencoba membuka percakapan diantara kami.

          “Seni, di Accademia di Belle Arti Gian Bettino Cignaroli” Jawabku menatap lurus ke arah matanya.

          “Mau jadi pelukis?”

        “Pemusik sih, tapi waktu itu ujian piano untuk sertifikat internasional nya gak lulus.” Aku menunduk malu.

        “Mungkin emang bukan rejeki Lo.” Tanpa ragu Wayne menepuk-nepuk pundakku, seolah kami seperti sudah berteman lama. Aku yang selalu diam-diam memperhatikan Wayne seperti ada yang janggal disana. Aku memang seperti pernah melihatnya. Tapi, dimana? Wajah nya sangat tidak asing lagi bagiku. Pikiranku terus mengulang pertanyaan yang sama.

       “Yang pentingkan udah disini, hehe..” Kami terus berjalan memperhatikan setiap gerak-gerik masyarakat Verona, di sepanjang jalan begitu banyak toko bunga dan buah, dan juga sebuah kedai jajanan murah. Tempat wisata di Verona memang tidak secemerlang seperti di Venice, dengan keindahan arsitektur bangunan nya yang bisa dinikmati di atas Gondola serta banyak toko-toko terapung disana dan siapa yang tidak tahu menara miring Pisa di Roma, Itali? Hanya saja aku lebih tertarik dengan sejarah di kota kecil ini. Tiba-tiba Wayne menghentikan langkahnya. “Kenapa Wayne?”

            “Gelato?*” Wayne tersenyum. Kali ini aku tau bahasa Itali yang Wayne maksudkan. (*Ice Cream?)

            “Vuoi! Sapore di cioccolato!*” Aku berteriak kegirangan. (*Mau! Rasa coklat!)

            “Itu bisa bahasa Itali hahaha!”

           “Bisa kalo Lo nanya nya soal es krim. Hehehe…” Kami berjalan menghampiri sebuah tukang es krim di pinggir jalan yang tidak jauh dari tempat aku dan Wayne berdiri. Lalu, Wayne memesan 2 es krim rasa coklat untuk ku dan dia. Kita lalu meneruskan perjalanan menuju rumah Juliet. Tidak sampai 30 menit.

        “Nad….” Aku tak menghiraukan sapaan Wayne karna terlalu sibuk melumat es krim pinggir jalan ternikmat, lain dengan es krim di Jakarta es tung-tungnya bikin batuk. “Nada!”

            “Eh… Iya, kenapa Wayne?” Aku tersentak.

         “Kita udah sampe.. Tuh… liat…” Tangan Wayne menunjuk lurus kearah patung Juliet yang terlihat tinggal beberapa langkah lagi dari hadapanku dan melewati sebuah kolong jembatan kecil.

       “RUMAH JULIET, WAYNE!!!!” saking girangnya tanpa berfikir panjang aku langsung berlari meninggalkan Wayne di belakangku. Dan setelah aku melewati jembatan itu. Aku segera menghentikan langkahku. Angin musim dingin mengibas bulu kudukku, merinding. Aku melihat beberapa orang wanita menangis tersedu-sedu, ada yang menangis sambil terduduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke tembok rumah Juliet, ada yang menangis meraung sambil menempelkan surat cinta itu di dinding, menangis sambil berbicara dengan bahasa Prancis. Yang paling aneh, terlihat beberapa wanita yang mengantri untuk foto bersama patung Juliet dengan wajah sembab, dan mereka berfoto sambil memegang payudara kanan Juliet.

            “Kenapa berhenti?” Tanya Wayne bingung.

            “Mereka semua, kesurupan?” wajahku memucat. “Apa lagi yang foto itu, kenapa dada Juliet yang di pegang?”

           “Hahaha… jadi Lo belum tau cerita mitos yang ini?” Wayne bertanya, dan aku hanya menggelengkan kepala. “Jadi, orang-orang dan para turis disini percaya kalo mereka megang dada si patung Juliet itu sambil ngucap permohonan, nanti apa yang mereka minta pasti di kabulin.” Wayne menjelaskan dengan intonasi melembut.

            “Idih… Memang Tuhan nya gak bisa ngabulin permintaan dia?”

          “Namanya juga untuk kesenengan aja kok.” Wayne mengacak-acak rambutku. “Ya udah, selamat menulis surat cinta untuk Juliet.. Gue duduk disitu ya.” Aku hanya bisa mengangguk, bingung setelah sampai sini apa yang akan aku lakukan. Demi apa pun aku sangat takjub melihat keindahan kota kecil ini, begitu asri dengan budaya nya yang unik dan tempat ini, memiliki sejuta cerita cinta yang Romeo dan Juliet simpan. Aku sendiri masih bingun apa cerita itu nyata atau fiktif belaka.

            Aku berjalan mendekati tembok rumah Juliet yang sudah di penuhi dengan tempelan-tempelan surat keputusasaan manusia-manusia disini terhadap cinta sejati mereka yang hilang atau mati? Entahlah. Tanpa sengaja, mataku terpaku pada sebuah surat yang di tempelkan di tembok itu bertuliskan “Quando l'amore non è mai stato lì per noi”. Yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah “Ketika Cinta Tidak Pernah Ada Untuk Kita”. Hatiku benar-benar teriris, mata dan hidungku mulai memanas, seolah akan meledakkan air mata yang tidak mungkin sanggup ku bendung. Kalimat ini seketika mengingatkanku pada seseorang yang teramat ku cintai di Jakarta. Cinta yang tidak pernah ada untuk kami, bukan karna aku takut mengungkapkan perasaanku. Hanya saja, aku tidak mungkin mengungkapkan perasaanku kepada seseorang yang telah memiliki kekasih. Ya Tuhaaan, perasaan ini benar-benar salah! Batinku berteriak.

            Ku lirik perlahan lelaki yang saat ini tengah menemaniku mengawali cerita di Negara Spaghetti. Melihatnya tengah mendengarkan musik dengan headphone yang menggantung di telinganya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya pelan, maju-mundur. Setelah itu, air mata ini jatuh membasahi pipiku. Ku keluarkan sebuah buku bersama dengan kertas polos dari dalam tasku, bersama dengan pulpen hitam yang akan membawaku melantunkan kalimat kesedihan atas gagalnya perasaan ini.
           
Dear, Juliet.
            Telah ku bawa pergi cintaku yang gagal ini menuju rumahmu, sama seperti kegagalan Romeo saat jatuh cinta kepada orang yang salah. Tapi apa mungkin perasaan ini yang bersalah? Apa yang hati ini tahu tentang cinta? Setahuku, cinta datang karna ketulusan itu ada. Namun, ketulusan itu tidak akan pernah terlihat jika yang kita cintai tidak berbalik mencintai kita bukan? Lantas bagaimana cara agar membuatnya mengerti. Tapi, aku membawa cintaku kesini bukan untuk di pertahankan, melainkan aku akan melepaskan hatiku, ku biarkan dan ku relakan perasaan ini mati untuknya. Mati bersama racun yang Romeo tenggak saat melihatmu mati suri, Juliet. Ku kubur cintaku disini. Addio, Agung.
                                                                                                                        -ASN
           
Kulipat kertas itu menjadi bentuk persegi, ku raba dinding rumah Juliet yang bertembokan batu bata yang tidak beraturan. Saat ku sentuh, sebuah batu bergerak seperti longgar dan bisa di buka. Aku pun menarik batu itu dari tembok rumah Juliet, berharap semoga setelah batu ini di tarik, rumah nya tidak rubuh. Ternyata patahan batu bata yang sudah sedikit terkikis, menutupi sebuah lubang di tembok itu. Segera saja ku letakan surat perpisahan itu di dalam dinding rumah Juliet. Ku tutup kembali dengan batu yang ku ambil tadi. Semoga seiring berjalannya waktu, perasaanku akan sama seperti surat ini. Terkikis habis dimakan rayap, lalu hilang tanpa jejak untuk selamanya.

          Setelah beberapa menit terdiam dengan dahi menempel pada tembok, Aku menoleh ke sebelah kanan, menyadari bahwa ada seseorang yang menyodorkan tissue kepadaku, Wayne.

             “Kesurupan?” tanya Wayne sambil cekikikan bercanda.

            “Sialan Lo.” Aku mengambil tissue yang Ia sodorkan untukku. Ku usap air mata yang sempat jatuh sia-sia.

            “Mau foto sama patung Julietnya? Sambil minta permohonan gih.”

            “Berarti sambil pegang dada dia?” kerutan di dahi ku bertambah selusin.

            “Iyap… tepat sekali…” Ucap Wayne sigap.

         “Idih, ogah… Lagian Gue juga gak bawa kamera, lain waktu mungkin.” Aku berjalan lesu sambil meninggalkan kerumunan orang-orang yang mulai berdatangan menuju House of Juliet. “Sekarang kita kemana?”

             “Laper?” Sahut Wayne dengan wajah sumringah.

         “Lumayan…” Lalu mata kami saling berpandangan menatap satu sama lain. Lagi-lagi mata yang Wayne miliki seperti mata yang pernah aku lihat. Pikiran itu kembali muncul. Pertanyaan-pertanyaan seputar ‘Siapakah dia sebenarnya?’ kembali hadir dalam otakku.



            “Ayo kita nikmatin Spaghetti, Pizza dan Lasagna asli dari Negara asalnya ini!” Wayne sangat-sangat antusias saat mengajakku makan malam. Dan kaki ku kini mengikuti langkah kemana hati ini akan pergi. Menikmati masa move on lalu lajang, atau segera mencari rumah baru untuk berlindung? Entahlah, biarkan hati kecil ini yang bicara dan memilih sendiri jalannya.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net