“Siamo arrivati ai
Giardini Lombroso, Postazione 17.” Seorang supir taksi itu berbicara dalam
bahasa Itali.
“Quanto
devo pagare?” Wayne berbicara dalam bahasa Itali sangat fasih dengan supir
taksi saat hendak turun. Aku yang benar-benar tidak paham dengan bahasa yang
sedang mereka gunakan hanya bisa menganga tercengang.
“Cinque
Euro.” Tidak lama setelah itu Wayne mengeluarkan uang satu lembar sebesar € 10,
yang lalu supir taksi itu memberikan kembalian sebesar € 5. Dari situ aku baru
mengerti percakapan mereka tidak lain hanyalah percakapan soal ongkos taksi.
Kami pun turun tepat di depan sebuah gang yang jalan nya lumayan besar.
“Koper
Lo mana?” tanya Wayne bingung.
“Cuma
ada ransel dan tas selempang, koper baru di kirim setelah Nyokap tau gue tinggal
dimana, habis kopernya gede banget.” Dengan santai nya aku menjawab pertanyaan
Wayne.
“Emang
cukup pake baju yang Lo bawa di ransel Lo itu?” lelaki yang memiliki mata sipit
ini semakin kepo.
“Cukup,
Gue selalu ngadain ritual supaya baju nya cukup.”
“Ritual?
Apaan?” Wayne semakin heran dengan ucapanku. Hingga kedua alisnya bertemu.
“Iya,
puasa mandi… hehehehehe…” Aku cengengesan
“Dasar
orang gila.” Dengan wajah datarnya Wayne pergi meninggalkan ku seraya berjalan
masuk menyusuri gang kecil di kota Verona. Mengarah ke sebuah rumah yang
ditujukan Glen pada sebuah kertas kecil yang Ia tinggalkan untukku.
“Sialan…”
Aku mendengus pelan. “Eh tunggu! Wayne! Lo yakin tempat nya disini?” aku yang
dengan segera mengejar lelaki berbadan jangkung itu, mensejajarkan langkah ku
dengannya. Tidak sampai 15 menit aku pun tiba tepat di depan sebuah rumah
berukuran sedang seperti butik baju, dihiasi dengan bunga-bunga yang menjuntai
jatuh kebawah dari atas balkon, ada sebuah tangga jalan di sebelah kiri yang
mengarah ke atas balkon tersebut, dan beberapa hiasan bunga cantik lain nya di
sudut rumah.
“Kita
udah sampe nih..” Wayne celingukan memperhatikan lingkungan sekitar. “Disini?”
“Sama
kayak yang di tulis di alamat tadi kan?”
“Iya
sih…”
“Tapi
keliatannya kosong, gak berpenghuni…”
“Namanya
juga rumah buat di sewa bodoh! Kalo ada penghuni nya ya berarti rumah orang.”
“Lo
juga bodoh, mentang-mentang rumah di sewa bukan berarti gak ada yang jaga kan?”
aku yang mulai kesal dengan ke-sok-tahuan Wayne memilih berjalan mendekati pintu
rumah tersebut dan berusaha mengetuk pintunya.
“Nada….”
Sahut Wayne pelan.
“Hmm?”
“Lo
dapet alamat ini darimana?” air muka Wayne berubah keheranan.
“Dari
orang asing yang sebangku sama Gue selama perjalanan menuju Venice.” Jawabku
santai.
“Dan
semudah itu Lo percaya?”
“Apa
untungnya berburuk sangka? Malah nambahin beban pikiran yang gak seharusnya
jadi pikiran Lo kan?”
“Tapi
bukan berarti semua orang asing bisa Lo percaya kan Nadaaaa??” Wayne terlihat
mulai begitu geregetan dengan jawaban-jawabanku yang super ngeselin itu.
“If
you’re a gentle, mendingan Lo yang ketuk pintu nya deh… daripada gue harus
dengerin Lo curhat.” Ku lipat kedua tanganku sambil melirikan pandangan dari
arah matanya ke arah pintu rumah itu.
“Rrrgghh!
Untung Lo cewek!” sambil berjalan menghentakan kaki ke jalan Wayne terlihat
seperti anak kecil yang ngambek dengan orang tua nya karna tidak di belikan
balon. Wayne mencoba mengetuk pintu berulang-ulang kali, tidak ada tanda-tanda
kemunculan manusia di dalamnya. Setelah cukup lama menunggu, tiba-tiba muncul
seorang wanita paruh baya dengan rambutnya yang panjang kecoklatan dan sedikit
memutih diikat ekor kuda, namun badan nya masih begitu bugar. Kelihatannya
wanita ini wanita baik-baik.
“Mi
scusi, signora…” Wayne langsung dengan sigap menghampiri wanita tersebut. “se
la padrona di casa??”
“Wayne,
ngomong bahasa Inggris aja… Gue gak ngerti…” Intonasi suaraku berubah merengek
seperti anak kecil.
“Bawel
Lo…” Ujar Wayne ketus. Wayne lalu melanjutkan percakapannya dengan wanita tadi.
“Sorry, Mam. Can you speak English?”
“Haha
of course, can I help you?” wanita yang memiliki senyum manis itu menjawab
dengan nada lemah lembut.
“Uhh..
I got this address from my friend, Glen… are you the owner of this house?”
“Glen?”
“Iya
tante! Glen! tadi aku ketemu dia di pesawat…” Dengan ketidak-tahu-maluan ku
segera saja aku memotong pembicaraan mereka.
“Heh! Gila kali Lo ya!? Lo pikir dia ngerti!?” Wayne yang
dengan begitu malu nya menghadapi tingkahku segera saja menarik tangan ku dan
mendekap wajahku erat. “I’m so sorry, Ma’am, she’s a bit crazy.” Lalu di
jitaknya kepalaku.
“Hahaha… you’re so funny, so you know about Glen?” Tanya
wanita itu ramah.
“Actually no, She met him on the airport, and Glen gave
this address to her.”
“Oh my lord… he must be my brother, Glen!”
“Your brother? But why didn’t come here and visit you?
why he…” Belum sempat melanjutkan kalimatnya, aku pun segera memotong
pertanyaan yang Wayne utarakan.
“Eh China, gak usah kepo juga kenapa sih?” aku berbisik
kesal.
“Elooo bisaaaa dieeem gaaak???????” Wayne yang begitu
kesalnya melihat kelakuanku, tanpa sadar Ia mendekatkan wajahnya ke arahku.
Sangat dekat, tak kurang dari 5 cm. sementara aku hanya memejamkan mata
rapat-rapat sambil mengkerutkan dahi.
“Hahaha.. It’s very a long story…” Jawab wanita itu
dengan suara melemah.
“So, do you rent this house?”
“Oh yeah, I rent this house, come on, let’s take a look
inside.” Wanita itu segera mengambil sebuah kunci dari dalam sebuah dompet
kecil yang biasa di pakai orang-orang untuk menyimpan uang recehan dan
membukakan pintu rumah itu. Aku yang begitu penasaran dengan design interior di
dalamnya segera masuk sambil berlari kecil meninggalkan Wayne di belakang.
“Waaah….” Aku selalu terpesona dengan ruangan yang
menggunakan lantai kayu sebagai ubinnya, entah kenapa. Dengan dinding berwarna
putih gading, dan campuran bebatuan lempeng berukuran cukup besar sebagai
penambah seni aristektur dari ruangan tersebut agar tidak terlalu simple dan
terlihat classic seperti jaman peradaban dulu. Sebuah ruangan memanjang ke
samping langsung mempertemukanku dengan kasur berukuran King Size yang di
sebelahnya ada sebuah meja telpon, lalu sebuah sofa duduk untuk 2 orang, di
tambah sebuah lemari berukuran sedang di ujung ruangan, ada pula sebuah meja
makan yang disediakan untuk 2 orang, di tambah wastafel dapur yang mejanya
menyatu pada kompor listrik mengarah ke jendela yang menghadap ke depan rumah,
dan sebuauh kamar mandi kecil. Semuanya ada pada satu ruangan yang mengarah
lurus ke samping.
“Gede Nad ruangannya…” Sahut Wayne pelan.
“Iya ini Gue lagi mikir, Gue bayar pake apaan? Pasti
mahal nyewa disini.” Ucapku pelan.
“So, what is your name young lady?” Tanya Wanita itu
kepadaku.
“Nada.” Aku menjawab seraya memberikan senyum terbaikku.
“Nada… you can call me Jane. So, do you like this room?”
Jane tersenyum ke arah ku dan Wayne.
“Ya, I’m so in love with this room, how much I pay
per/month?” tanyaku santai.
“Only 675 dollars.” Ketika Jane menyebutkan harga nya, Aku hanya
bisa menenggak ludahku sendiri. Lalu wanita itu melanjutkan kalimatnya kembali.
“But, because you’re friends of Glen, you can pay half.” Jane tersenyum. Aku
dan Wayne mengehla nafas bersamaan. Aku sudah hampir hilang harapan jika memang
harus bayar kontrakan sebesar 7 juta/bulan.
“Oh Jane, thank you so much!” Aku dan Jane berjabat
tangan sebagai tanda persetujuan, setelah itu Wayne. Lalu Jane meninggalkan
kami berdua. “Akhirnyaaaaa!!!” aku langsung merebahkan badanku ke atas kasur
yang begitu besar dan empuk. Sementara Wayne beristirahat duduk di sofa.
“Habis ini kita ke House of Juliet yuk?” Wayne mengajakku
sambil celingkukan melihat seisi ruangan.
“Serius??? Lo mau ajak gue??? Ayoook!” Aku berteriak
begitu antusias.
“Iya, lagian juga gak terlalu jauh kok dari sini.. Kalo
gak keberatan, kita jalan kaki?”
“With all my pleasure, Sir!” aku tersenyum lebar ke arah
Wayne. Tidak sabar dengan apa yang akan aku temukan di rumah Juliet nanti dan
apa yang akan aku ceritakan kepada agen Juliet nanti.
0 comments:
Post a Comment