Saturday, January 4, 2014

Dear, Juliet! (Part I)

Posted by Unknown at 12:05 PM
           “Siamo arrivati ​​ai Giardini Lombroso, Postazione 17.” Seorang supir taksi itu berbicara dalam bahasa Itali.

“Quanto devo pagare?” Wayne berbicara dalam bahasa Itali sangat fasih dengan supir taksi saat hendak turun. Aku yang benar-benar tidak paham dengan bahasa yang sedang mereka gunakan hanya bisa menganga tercengang.

“Cinque Euro.” Tidak lama setelah itu Wayne mengeluarkan uang satu lembar sebesar € 10, yang lalu supir taksi itu memberikan kembalian sebesar € 5. Dari situ aku baru mengerti percakapan mereka tidak lain hanyalah percakapan soal ongkos taksi. Kami pun turun tepat di depan sebuah gang yang jalan nya lumayan besar.


“Koper Lo mana?” tanya Wayne bingung.

“Cuma ada ransel dan tas selempang, koper baru di kirim setelah Nyokap tau gue tinggal dimana, habis kopernya gede banget.” Dengan santai nya aku menjawab pertanyaan Wayne.

“Emang cukup pake baju yang Lo bawa di ransel Lo itu?” lelaki yang memiliki mata sipit ini semakin kepo.

“Cukup, Gue selalu ngadain ritual supaya baju nya cukup.”

“Ritual? Apaan?” Wayne semakin heran dengan ucapanku. Hingga kedua alisnya bertemu.

“Iya, puasa mandi… hehehehehe…” Aku cengengesan

“Dasar orang gila.” Dengan wajah datarnya Wayne pergi meninggalkan ku seraya berjalan masuk menyusuri gang kecil di kota Verona. Mengarah ke sebuah rumah yang ditujukan Glen pada sebuah kertas kecil yang Ia tinggalkan untukku.

“Sialan…” Aku mendengus pelan. “Eh tunggu! Wayne! Lo yakin tempat nya disini?” aku yang dengan segera mengejar lelaki berbadan jangkung itu, mensejajarkan langkah ku dengannya. Tidak sampai 15 menit aku pun tiba tepat di depan sebuah rumah berukuran sedang seperti butik baju, dihiasi dengan bunga-bunga yang menjuntai jatuh kebawah dari atas balkon, ada sebuah tangga jalan di sebelah kiri yang mengarah ke atas balkon tersebut, dan beberapa hiasan bunga cantik lain nya di sudut rumah.

“Kita udah sampe nih..” Wayne celingukan memperhatikan lingkungan sekitar. “Disini?”

“Sama kayak yang di tulis di alamat tadi kan?”

“Iya sih…”

“Tapi keliatannya kosong, gak berpenghuni…”

“Namanya juga rumah buat di sewa bodoh! Kalo ada penghuni nya ya berarti rumah orang.”

“Lo juga bodoh, mentang-mentang rumah di sewa bukan berarti gak ada yang jaga kan?” aku yang mulai kesal dengan ke-sok-tahuan Wayne memilih berjalan mendekati pintu rumah tersebut dan berusaha mengetuk pintunya.

“Nada….” Sahut Wayne pelan.

“Hmm?”

“Lo dapet alamat ini darimana?” air muka Wayne berubah keheranan.

“Dari orang asing yang sebangku sama Gue selama perjalanan menuju Venice.” Jawabku santai.

“Dan semudah itu Lo percaya?”

“Apa untungnya berburuk sangka? Malah nambahin beban pikiran yang gak seharusnya jadi pikiran Lo kan?”

“Tapi bukan berarti semua orang asing bisa Lo percaya kan Nadaaaa??” Wayne terlihat mulai begitu geregetan dengan jawaban-jawabanku yang super ngeselin itu.

“If you’re a gentle, mendingan Lo yang ketuk pintu nya deh… daripada gue harus dengerin Lo curhat.” Ku lipat kedua tanganku sambil melirikan pandangan dari arah matanya ke arah pintu rumah itu.

“Rrrgghh! Untung Lo cewek!” sambil berjalan menghentakan kaki ke jalan Wayne terlihat seperti anak kecil yang ngambek dengan orang tua nya karna tidak di belikan balon. Wayne mencoba mengetuk pintu berulang-ulang kali, tidak ada tanda-tanda kemunculan manusia di dalamnya. Setelah cukup lama menunggu, tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya dengan rambutnya yang panjang kecoklatan dan sedikit memutih diikat ekor kuda, namun badan nya masih begitu bugar. Kelihatannya wanita ini wanita baik-baik.

“Mi scusi, signora…” Wayne langsung dengan sigap menghampiri wanita tersebut. “se la padrona di casa??”

“Wayne, ngomong bahasa Inggris aja… Gue gak ngerti…” Intonasi suaraku berubah merengek seperti anak kecil.

“Bawel Lo…” Ujar Wayne ketus. Wayne lalu melanjutkan percakapannya dengan wanita tadi. “Sorry, Mam. Can you speak English?”

“Haha of course, can I help you?” wanita yang memiliki senyum manis itu menjawab dengan nada lemah lembut.

“Uhh.. I got this address from my friend, Glen… are you the owner of this house?”

“Glen?”

“Iya tante! Glen! tadi aku ketemu dia di pesawat…” Dengan ketidak-tahu-maluan ku segera saja aku memotong pembicaraan mereka.

            “Heh! Gila kali Lo ya!? Lo pikir dia ngerti!?” Wayne yang dengan begitu malu nya menghadapi tingkahku segera saja menarik tangan ku dan mendekap wajahku erat. “I’m so sorry, Ma’am, she’s a bit crazy.” Lalu di jitaknya kepalaku.

            “Hahaha… you’re so funny, so you know about Glen?” Tanya wanita itu ramah.

            “Actually no, She met him on the airport, and Glen gave this address to her.”

            “Oh my lord… he must be my brother, Glen!”

        “Your brother? But why didn’t come here and visit you? why he…” Belum sempat melanjutkan kalimatnya, aku pun segera memotong pertanyaan yang Wayne utarakan.

            “Eh China, gak usah kepo juga kenapa sih?” aku berbisik kesal.

            “Elooo bisaaaa dieeem gaaak???????” Wayne yang begitu kesalnya melihat kelakuanku, tanpa sadar Ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Sangat dekat, tak kurang dari 5 cm. sementara aku hanya memejamkan mata rapat-rapat sambil mengkerutkan dahi.

            “Hahaha.. It’s very a long story…” Jawab wanita itu dengan suara melemah.

            “So, do you rent this house?”

            “Oh yeah, I rent this house, come on, let’s take a look inside.” Wanita itu segera mengambil sebuah kunci dari dalam sebuah dompet kecil yang biasa di pakai orang-orang untuk menyimpan uang recehan dan membukakan pintu rumah itu. Aku yang begitu penasaran dengan design interior di dalamnya segera masuk sambil berlari kecil meninggalkan Wayne di belakang.

            “Waaah….” Aku selalu terpesona dengan ruangan yang menggunakan lantai kayu sebagai ubinnya, entah kenapa. Dengan dinding berwarna putih gading, dan campuran bebatuan lempeng berukuran cukup besar sebagai penambah seni aristektur dari ruangan tersebut agar tidak terlalu simple dan terlihat classic seperti jaman peradaban dulu. Sebuah ruangan memanjang ke samping langsung mempertemukanku dengan kasur berukuran King Size yang di sebelahnya ada sebuah meja telpon, lalu sebuah sofa duduk untuk 2 orang, di tambah sebuah lemari berukuran sedang di ujung ruangan, ada pula sebuah meja makan yang disediakan untuk 2 orang, di tambah wastafel dapur yang mejanya menyatu pada kompor listrik mengarah ke jendela yang menghadap ke depan rumah, dan sebuauh kamar mandi kecil. Semuanya ada pada satu ruangan yang mengarah lurus ke samping.

            “Gede Nad ruangannya…” Sahut Wayne pelan.

            “Iya ini Gue lagi mikir, Gue bayar pake apaan? Pasti mahal nyewa disini.” Ucapku pelan.

            “So, what is your name young lady?” Tanya Wanita itu kepadaku.

            “Nada.” Aku menjawab seraya memberikan senyum terbaikku.

            “Nada… you can call me Jane. So, do you like this room?” Jane tersenyum ke arah ku dan Wayne.

            “Ya, I’m so in love with this room, how much I pay per/month?” tanyaku santai.

          “Only 675 dollars.” Ketika Jane menyebutkan harga nya, Aku hanya bisa menenggak ludahku sendiri. Lalu wanita itu melanjutkan kalimatnya kembali. “But, because you’re friends of Glen, you can pay half.” Jane tersenyum. Aku dan Wayne mengehla nafas bersamaan. Aku sudah hampir hilang harapan jika memang harus bayar kontrakan sebesar 7 juta/bulan.

            “Oh Jane, thank you so much!” Aku dan Jane berjabat tangan sebagai tanda persetujuan, setelah itu Wayne. Lalu Jane meninggalkan kami berdua. “Akhirnyaaaaa!!!” aku langsung merebahkan badanku ke atas kasur yang begitu besar dan empuk. Sementara Wayne beristirahat duduk di sofa.

            “Habis ini kita ke House of Juliet yuk?” Wayne mengajakku sambil celingkukan melihat seisi ruangan.

            “Serius??? Lo mau ajak gue??? Ayoook!” Aku berteriak begitu antusias.

            “Iya, lagian juga gak terlalu jauh kok dari sini.. Kalo gak keberatan, kita jalan kaki?”



            “With all my pleasure, Sir!” aku tersenyum lebar ke arah Wayne. Tidak sabar dengan apa yang akan aku temukan di rumah Juliet nanti dan apa yang akan aku ceritakan kepada agen Juliet nanti.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net