Sambil termenung
memandang ke arah jendela yang berada di sebelah kananku, kereta ini terus
melaju membawaku dan Wayne ke sebuah kota besar di Italy. Entah atas dasar apa
Wayne memaksaku untuk membeli sebuah gaun pesta saat ini juga, padahal acara
pameran itu masih seminggu lagi. Sesekali aku melirik Wayne yang duduk tepat di
hadapanku sambil menggeser-geser layar handphone nya. Dia begitu baik kepadaku,
perlakuannya sungguh manis. Namun aku masih tidak habis pikir ada apa
sebenarnya.
“Wayne…”
“Si Nada?”
Wayne menegakkan kepalanya begitu natural. Membuatku terpukau.
“Kenapa di hidup ini harus ada cinta?” dengan tiba-tiba
saja Aku melontarkan sebuah pertanyaan absurd, namun pertanyaan ini akan
menjawab semuanya. Kening Wayne berkerut, seolah berfikir, heran dan matanya
seperti bertanya balik.
“Memang kenapa?”