Wednesday, February 12, 2014

It's You (part I)

Posted by Unknown at 11:01 AM
          “Nadaaa!!!” Nicholas teman baruku di kampus berteriak sambil berlari terengah-engah mengejarku.

      “What the…What’s wrong Nick?” Sambil mengkerutkan dahi hingga kedua alisku bertemu, aku memperhatikan raut wajah Nick yang kelelahan mengejarku.

        “There will be an Art Expo in Venice on Saturday night, here’s the invitation. You should come okay!?” Nick berbicara tanpa jeda.

        “Okay, take a breath Nick.. hahaha! count me in!” ucapku begitu semangat.

      “GREAT! Hahaha see you on Saturday night Nada!! By the way, you can ask one person to accompany you, because I’m gonna take my girl come with me.” Jelas Nick kepadaku dengan singkat dan jelas.

       “Oh… Okay, sounds nice.” Aku tersenyum sambil memperhatikan surat undangan dalam genggamanku, sambil melanjutkan kalimatku kembali. “Well, see you then, Nick.”

      “Okay, Nada don’t forget the time and the place! Byeee….” Nick memberikan kecupan di pipiku sambil akhirnya pergi meninggalkanku sendiri di lorong kampus. Aku berdiri mematung di tengah kesunyian. Sampai akhirnya dengan tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu ku dari belakang.

         “Nad!” aku tersentak bukan main, rasa jantungku seolah pindah ke tumit dan tumit ke jidat lalu jidat ke lambung.

          “WAYNE!!!” aku menghela nafas panjang. “Kaget tau!”

        “Hahaha scusate bello*” Ucap Wayne sambil mengacak-acak rambutku yang tergerai. (*Maaf cantik)

            “Dove sei stato*?” Sambil berjalan menyusuri lorong kampus tua di Verona, kami mulai membuka pembicaraan. (*Kamu darimana aja?)

            “Kantin.. Tadi Gue malah nyariin Lo kesana, ternyata ada disini.” Wayne menghentikan kalimatnya, dan lalu kembali bertanya setelah Ia begitu penasaran melihat surat undangan yang ada dalam genggamanku. “Eh, apaan tuh di tangan Lo?”

            “Oh, ini… Nick kasih Gue undangan acara pameran seni lukis di Venesia, tapi belum tau mau ngajak siapa nih.” Aku memandangi undangan itu seraya dengan ekspresi wajah seolah berfikir, padahal sama sekali tidak memikirkan apa pun.

            “Sebelah Lo nganggur nih, gak di ajak?” Aku menoleh dengan gaya slow motion.

            “Mau emangnya?  Gak semua orang suka seni lukis kan? Nanti Lo disana malah bete ngeliatin lukisan-lukisan yang gak Lo ngerti.” Ucapku panjang lebar.

            “Yailaaah Naaad, kita udah lama temenan juga. Bahkan kita udah hampir 4 bulan nyari ilmu di kota yang sama, walaupun kampusnya beda.” Wayne mengambil nafas sejenak. “Coba siapa yang selalu Lo temuin setiap kali Lo masuk ke ruang musik dan galeri kampus? Siapa?” Wayne mulai bicara layaknya orang paling keren sedunia.

            “Yaaa, Elo, tapi itu juga kan karna Lo kayak setan tiba-tiba udah nongol di kampus gue…tapi…” Aku seketika terhenti mengingat ucapan Wayne yang sebelumnya.

            “Tapi apa? Masih ragu dengan selera seni Gue?”

            “Bukan…” Aku menghentikan langkahku. “Memangnya kita udah lama temenan ya?” Tanyaku dengan tatapan penuh arti. Berharap aku akan mendapat jawaban yang selama ini menjadi tanda tanya besar di hatiku. Setiap kali Aku menatap matanya, hati ini seolah bertemu. Entah bertemu apa, tapi setiap kali senyum itu menyapa mataku, rasa hati tak ingin  pergi.

            “4 bulan itu lama kan?” Tanya Wayne singkat. Ternyata Aku salah, mungkin hanya terlalu percaya diri dan mengharapkan yang seharusnya tidak Aku harapkan. Sementara kepala ku hanya mampu mengangguk untuk menjawab pertanyaan konyol Wayne. “Jadi Lo mau ngajak Gue gak nih?”

            “Sure…” Aku tersenyum girang. Wayne selalu datang menjemputku setiap jam pulang kuliahnya selesai lebih awal dari jam kuliahku. Ia menjemputku bukan dengan mobil antiknya, motor kerennya, apa lagi seperti para pangeran dengan kuda putihnya. Ia datang hanya dengan kedua kakinya, membawa segenap ketulusan bersamanya yang terlihat pada kedua matanya, meski jarak dari kampusnya menuju kampusku sedikit jauh.

            Memang sangat tidak terasa sudah hampir 4 bulan Aku mengalami begitu banyak pahit manisnya menjadi seorang rantauan. Aku selalu berusaha menghubungi keluargaku di Jakarta, tapi kendala sinyal dan mahalnya pulsa yang membuatku tidak bisa begitu sering menghubungi mereka. Di tambah lagi kiriman paket dari Jakarta selalu datang terlambat, membuatku harus lebih was-was untuk menjaga kesehatan agar penyakit ku tidak cepat kambuh. Bahasa Italy yang masih belum bisa aku kuasai sepenuhnya, memasak makan malam sendiri. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dengan kebahagiaanku yang telah berjuang hingga akhirnya aku bisa berdiri di kota ini.

            “Mau ke Venesia dulu gak?” Ajak Wayne tiba-tiba.

            “Mau ngapain?” Kerutan di keningku meningkat selusin. Heran.

            “Emangnya Lo ada gaun untuk ke pameran nanti?” Aku menatap dalam ke arah matanya. Sementara Ia menaikan sebelah alisnya seolah memberi tanda bahwa aku satu-satunya perempuan di dunia yang di lemari pakaiannya tidak terdapat gaun satu helai pun.

            “Tapi kalo harus beli ke Venesia kan mahaaaaal gilaaa…”


      “Udaaaah ayoook ah!” Lalu dengan tanpa ragu Ia langsung menggenggam tanganku erat dan menariknya. Kemana kaki kami melangkah, disanalah sejarah diantara kami terukir.

2 comments:

ffal said...

sialan, postingan macam apa ini bikin penasaran -_-

Unknown said...

itu kayak nya komentar aku deh -___-

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net