“Nadaaa!!!” Nicholas
teman baruku di kampus berteriak sambil berlari terengah-engah mengejarku.
“What the…What’s wrong Nick?” Sambil mengkerutkan dahi
hingga kedua alisku bertemu, aku memperhatikan raut wajah Nick yang kelelahan
mengejarku.
“There will be an Art Expo in Venice on Saturday night,
here’s the invitation. You should come okay!?” Nick berbicara tanpa jeda.
“Okay, take a breath Nick.. hahaha! count me in!” ucapku
begitu semangat.
“GREAT! Hahaha see you on Saturday night Nada!! By the
way, you can ask one person to accompany you, because I’m gonna take my girl
come with me.” Jelas Nick kepadaku dengan singkat dan jelas.
“Oh… Okay, sounds nice.” Aku tersenyum sambil
memperhatikan surat undangan dalam genggamanku, sambil melanjutkan kalimatku
kembali. “Well, see you then, Nick.”
“Okay, Nada don’t forget the time and the place! Byeee….”
Nick memberikan kecupan di pipiku sambil akhirnya pergi meninggalkanku sendiri
di lorong kampus. Aku berdiri mematung di tengah kesunyian. Sampai akhirnya
dengan tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu ku dari belakang.
“Nad!” aku tersentak bukan main, rasa jantungku seolah
pindah ke tumit dan tumit ke jidat lalu jidat ke lambung.
“WAYNE!!!” aku menghela nafas panjang. “Kaget tau!”
“Hahaha scusate
bello*” Ucap Wayne sambil mengacak-acak rambutku yang tergerai. (*Maaf cantik)
“Dove sei stato*?”
Sambil berjalan menyusuri lorong kampus tua di Verona, kami mulai membuka
pembicaraan. (*Kamu darimana aja?)
“Kantin.. Tadi Gue malah nyariin Lo kesana, ternyata ada
disini.” Wayne menghentikan kalimatnya, dan lalu kembali bertanya setelah Ia
begitu penasaran melihat surat undangan yang ada dalam genggamanku. “Eh, apaan
tuh di tangan Lo?”
“Oh, ini… Nick kasih Gue undangan acara pameran seni
lukis di Venesia, tapi belum tau mau ngajak siapa nih.” Aku memandangi undangan
itu seraya dengan ekspresi wajah seolah berfikir, padahal sama sekali tidak
memikirkan apa pun.
“Sebelah Lo nganggur nih, gak di ajak?” Aku menoleh
dengan gaya slow motion.
“Mau emangnya? Gak
semua orang suka seni lukis kan? Nanti Lo disana malah bete ngeliatin
lukisan-lukisan yang gak Lo ngerti.” Ucapku panjang lebar.
“Yailaaah Naaad, kita udah lama temenan juga. Bahkan kita
udah hampir 4 bulan nyari ilmu di kota yang sama, walaupun kampusnya beda.”
Wayne mengambil nafas sejenak. “Coba siapa yang selalu Lo temuin setiap kali Lo
masuk ke ruang musik dan galeri kampus? Siapa?” Wayne mulai bicara layaknya
orang paling keren sedunia.
“Yaaa, Elo, tapi itu juga kan karna Lo kayak setan tiba-tiba
udah nongol di kampus gue…tapi…” Aku seketika terhenti mengingat ucapan Wayne
yang sebelumnya.
“Tapi apa? Masih ragu dengan selera seni Gue?”
“Bukan…” Aku menghentikan langkahku. “Memangnya kita udah
lama temenan ya?” Tanyaku dengan tatapan penuh arti. Berharap aku akan mendapat
jawaban yang selama ini menjadi tanda tanya besar di hatiku. Setiap kali Aku
menatap matanya, hati ini seolah bertemu. Entah bertemu apa, tapi setiap kali
senyum itu menyapa mataku, rasa hati tak ingin
pergi.
“4 bulan itu lama kan?” Tanya Wayne singkat. Ternyata Aku
salah, mungkin hanya terlalu percaya diri dan mengharapkan yang seharusnya
tidak Aku harapkan. Sementara kepala ku hanya mampu mengangguk untuk menjawab
pertanyaan konyol Wayne. “Jadi Lo mau ngajak Gue gak nih?”
“Sure…” Aku tersenyum girang. Wayne selalu datang menjemputku
setiap jam pulang kuliahnya selesai lebih awal dari jam kuliahku. Ia menjemputku
bukan dengan mobil antiknya, motor kerennya, apa lagi seperti para pangeran
dengan kuda putihnya. Ia datang hanya dengan kedua kakinya, membawa segenap ketulusan
bersamanya yang terlihat pada kedua matanya, meski jarak dari kampusnya menuju
kampusku sedikit jauh.
Memang sangat tidak terasa sudah hampir 4 bulan Aku
mengalami begitu banyak pahit manisnya menjadi seorang rantauan. Aku selalu
berusaha menghubungi keluargaku di Jakarta, tapi kendala sinyal dan mahalnya
pulsa yang membuatku tidak bisa begitu sering menghubungi mereka. Di tambah
lagi kiriman paket dari Jakarta selalu datang terlambat, membuatku harus lebih
was-was untuk menjaga kesehatan agar penyakit ku tidak cepat kambuh. Bahasa Italy
yang masih belum bisa aku kuasai sepenuhnya, memasak makan malam sendiri. Tapi semua
itu tidak ada apa-apanya dengan kebahagiaanku yang telah berjuang hingga
akhirnya aku bisa berdiri di kota ini.
“Mau ke Venesia dulu gak?” Ajak Wayne tiba-tiba.
“Mau ngapain?” Kerutan di keningku meningkat selusin.
Heran.
“Emangnya Lo ada gaun untuk ke pameran nanti?” Aku
menatap dalam ke arah matanya. Sementara Ia menaikan sebelah alisnya seolah memberi
tanda bahwa aku satu-satunya perempuan di dunia yang di lemari pakaiannya tidak
terdapat gaun satu helai pun.
“Tapi kalo harus beli ke Venesia kan mahaaaaal gilaaa…”
“Udaaaah ayoook ah!” Lalu dengan tanpa ragu Ia langsung
menggenggam tanganku erat dan menariknya. Kemana kaki kami melangkah, disanalah
sejarah diantara kami terukir.
2 comments:
sialan, postingan macam apa ini bikin penasaran -_-
itu kayak nya komentar aku deh -___-
Post a Comment