Sambil termenung
memandang ke arah jendela yang berada di sebelah kananku, kereta ini terus
melaju membawaku dan Wayne ke sebuah kota besar di Italy. Entah atas dasar apa
Wayne memaksaku untuk membeli sebuah gaun pesta saat ini juga, padahal acara
pameran itu masih seminggu lagi. Sesekali aku melirik Wayne yang duduk tepat di
hadapanku sambil menggeser-geser layar handphone nya. Dia begitu baik kepadaku,
perlakuannya sungguh manis. Namun aku masih tidak habis pikir ada apa
sebenarnya.
“Wayne…”
“Si Nada?”
Wayne menegakkan kepalanya begitu natural. Membuatku terpukau.
“Kenapa di hidup ini harus ada cinta?” dengan tiba-tiba
saja Aku melontarkan sebuah pertanyaan absurd, namun pertanyaan ini akan
menjawab semuanya. Kening Wayne berkerut, seolah berfikir, heran dan matanya
seperti bertanya balik.
“Cuma mau tau aja.” Ucapku lagi.
“Mungkin emang udah seharusnya ada.” Balas Wayne seolah
tidak peduli dengan pertanyaanku. “Oh iya Nad…”
“Hmm?”
“Foto cowok yang Lo pajang di meja telpon itu,
keliatannya bekas sobekan. Itu foto siapa?”
“Emang kenapa?” Aku mengulang kembali pertnyaan yang
sebelumnya Wayne utarakan kepadaku.
“Cuma mau tau aja, kayaknya sepesial gitu.” Sahut Wayne
seolah tak peduli.
“Cemburu?” Ledekku kepada Wayne sambil menyunggingkan
senyum kecil sambil mengangkat sebelah alisku.
“BAHAHAHAHA! Ya enggaklaaah!! Gila Lo hahahaha!!!”
setelah puas tertawa Wayne hening seketika lalu kembali bicara. “Enggak tau
maksudnya.”
“Sinting…” Ucapku dengan ekspresi wajah sedikit bengis
bercampur geli.
“Jadi sebenernya dia siapa? Mantan pacar?”
“Bukan, ceritanya panjang…”
“Gue rasa kereta ini punya banyak waktu untuk
mendengarkan cerita panjang Lo itu.” Wayne tersenyum.
“Mungkin nanti, kita cari tempat yang punya banyak waktu
untuk mau menampung cerita sampah Gue ini.” Balasku.
“I’d love to be that trash can to keep all the rubbish.”
Wayne mengacak-acak rambutku. Aku hanya diam, tercengang memandang kaku ke
arahnya mendengar ucapan yang baru saja Ia lontarkan. Telapak tangan dan kaki
ku dingin seolah terpaku bumi. “Kok bengong?”
Sementara aku masih terdiam. Dengan sekejap waktu
hidungku mulai memanas, mataku memerah dan mengeluarkan sedikit genangan air
mata. Lalu air mata itu terjatuh begitu saja tanpa tahu apa penyebabnya. Bibirku
gemetar, badanku melemah. Hatiku menjerit “YA
TUHAAAN! Apa mungkin dia adalah kamu!!!??”
“Hey..hey.. Nad, are you okay? Seriously what’s wrong?”
Wayne mulai kebingungan, panik dan wajahnya terlihat ketakutan. Bibirku
bergetar, ingin bicara namun tak sanggup. Suara ini seperti tersangkut pada
sebuah gulungan benang kusut. Namun aku berusaha mencoba. Dengan suara parau
dan serak aku memberanikan diri untuk berbicara.
“Wayne… selama 4 bulan ini Gue gak pernah tau siapa nama
lengkap Lo.” Aku terdiam, menelan ludah. Lalu kembali bicara. “Tapi Lo tau
beberapa hal tentang apa yang Gue suka, kebiasaan Gue, Lo seolah udah lama
mempelajari pola hidup Gue. Sebenernya Lo ini siapa???” Aku bicara bercampur
tangis, entah terdengar jelas atau tidak di telinga Wayne. Aku menatap kedalam
matanya dengan perasaan haru, kacau, sedih, dan kecewa. Mata Wayne membalas
tatapanku seperti berbicara, menyampaikan sesuatu. Tetapi sulit.
“Nad… Gue….” Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Aku
segera memotong dengan sigap.
“Hi, Ray…” Ucapku sambil mengusap air mata. “I know it’s
you…. Ramothy Trisna Wijaya.” Dan lalu Aku kembali menangis dengan begitu
lepas, rasa sesak ini benar-benar menyiksa dan menyakitkan. Aku menangis
sekeras yang ku bisa, membawa kembali kenangan di masa lalu itu berkumpul dalam
perjalanan yang singkat. Aku menangis tersedu, terduduk menyudut menghadap ke
jendela sebauh kereta. Sementara Wayne yang ternyata adalah cinta pertamaku
saat duduk di bangku sekolah dasar dulu, berusaha menenangkanku dengan berpindah
posisi duduk tepat di sampingku. Sambil membisikan namaku pelan di telingaku berulang-ulang
kali dengan maksud untuk menenangkanku, tangannya mencoba merangkul dan
membawaku berada dalam pelukannya.
“Hey hey… My Sugar.. Nada, I’m so sorry that I didn’t tell
you since the first time we met.” Ucap Wayne yang sebenarnya nama panggilannya
adalah Ray. “Waktu itu Aku takut… Aku ragu dan Aku bingung…” Ray terdiam. “Aku
seperti mimpi saat pertama kalinya lagi Aku mendengar nama itu setelah 9 tahun
lamanya…” Dan kini aku berada dalam pelukan yang sudah sekian lama ku rindukan,
begitu nyaman. Hati ini seperti menemukan kembali jalur nadinya. Rumahku sudah
kembali, namun aku belum memastikan rumah ini kembali dengan keadaan utuh atau
tidak.
“Tapi kenapa Kamu harus nutupin semuanya Ray? Jadi selama
4 bulan ini, Aku berada di kota penuh cinta ini sama…. Kamu?” aku menatap Ray
lembut.
“Iya Nada…” Sambil mengelus-elus kepalaku Ray mulai
membuka semua yang selama ini menjadi tanda tanyaku. “Sebenernya, waktu pertama
kali Aku liat kamu saat kita lagi transit di Doha. Dan mulai sadar kalo itu
adalah Kamu waktu kita berada di pesawat yang sama… Aku duduk tepat di bangku
paling belakang, Aku terus perhatiin ke arah bangku kamu.” Ray menghela nafas
sejenak. “Aku keluar lebih awal saat kamu masih tertidur, bisa memperhatikan
kamu untuk yang pertama kalinya lagi saat tertidur walaupun hanya 5 menit itu
benar-benar membantu untuk meyakinkan hati ini kalo Aku gak salah orang.”
Dengan tiba-tiba saja Ray mengecup lembut kepalaku, sementara Aku masih belum
bisa menghentikan tangisanku. Aku ingin sekali marah kepada Ray, tapi hati ini
menolak untuk memarahinya. Aku terlalu merindukannya. Cinta pertamaku. “Saat Aku
setting semua adegan tabrakan itu, supaya Aku bisa lebih yakin kalo Kamu adalah
Rusa ku, dan ternyata benar… Kamu Sugarusa ku yang hilang saat Kamu menyebutkan
nama lengkapmu tanpa Aku minta.” Lalu aku merasakan keningku sedikit basah. Ray
juga sepertinya tidak bisa menahan rasa haru diantara kami.
“Aku masih gak ngerti…”
“Kenapa Nad?”
“Kenapa nama Kamu jadi Wayne?” tanyaku bingung
.
“Karna orang Italy gak ada yang bisa nyebut ‘Wijaya’
hahahaha…” seketika tawanya memecah ketegangan yang menyelimuti kami. “Dan Kamu…..”
“Aku kenapa?” Tanyaku lagi.
“Aku gak pernah
tau, kalo Kamu masih mengingat kalimat yang pernah aku ucapkan saat sebelum
kita pisah.” Lalu aku dan Ray bicara bersamaan. “I’d love to be that trash
can to keep all the rubbish.” Aku memeluk Ray erat. Jika saja Aku bisa
meremukan tulang-tulangnya saat itu, mungkin sekarang Ia sudah berada di tukang
urut tradisional untuk reparasi patah tulang.
“Dan panggilan itu masih sama….” Sahutku pelan. “Sugarusa
dan Ramocil.” Entah bagaimana rasanya saat seekor Rusa yang kesepian itu di
pertemukan kembali dengan cintanya, sang Kancil. Tanpa terasa Kami sudah tiba
di Venesia. Benar saja, sejarah itu mulai kembali terukir. Sugarusa panggilan
sayang Ray untukku yang mana Sugar adalah gula yang berarti manis dan rusa
adalah sebagai penanda. Ramo yang adalah singkatan dari Ramothy dan Cil yang
berarti Kancil. Rusa dan Kancil sebagai penanda bahwa Kami ini satu spesies
namun berbeda. Perbedaan kami adalah perbedaan yang sudah Tuhan takdirkan. Ketika
Aku terlahir sebagai seorang gadis dengan sebuah Al-Qur’an dalam pelukanku dan
kitab Injil dalam pelukan Ray. Namun, itu semua tidak selesai hanya sampai disini. Seperti sebuah perjalanan hidup, cinta pun sama, terus berputar mengikuti arus waktu.
0 comments:
Post a Comment