Thursday, July 31, 2014

Cinta Selalu Pulang (Part I)

Posted by Unknown at 2:37 AM
Tak lama kami tiba di sebuah kota mewah, megah nan indah, begitu memukau siapa pun yang datang dan berkunjung untuk menikmati arsitektur bangunan-bangunan tua di Venice. Salah satu arsitektur bangunan yang menjadi perhatian utamaku adalah bangunan Ca’D’Oro dan Doge Palace, yang mana mereka menggunakan arsitektur yang mengkombinasikan penggunaan lengkungan gothic dengan pengaruh arsitektur bizantium dan gaya moor. Dan kebanyakan orang mengenal nama arsitektur ini dengan sebutan Venetian Gothic. Gaya ini mendapat pengaruh gaya bizantium dari konstantinopel dan pengaruh arab dari kaum moor spanyol, biar terdengar rumit arsiktektur Venetian Gothic ini penekanannya pada struktur yang ringan dan anggun. Aku teramat menyukai pekerjaan apa pun yang berhubungan dengan seni, entah seni lukis, musik, arsitektur bangunan, atau pun design interior. Sebab yang di butuhkan dalam pekerjaan itu tidak hanya skill tapi juga ide cemerlang untuk membuat orang-orang tertarik untuk memilikinya.

“Nada….”

“Si Ray?”

“Gelato?” Ray tersenyum.

“As always! Hahahaha!!” aku pun turut tersenyum saat menyadari Ray selalu tau apa yang menjadi kesukaanku. Ray membawaku ke sebuah kedai ice cream terlezat di Venesia dengan namanya yang cukup rumit untuk dibaca.

“N’Ice…Cream hommade gelato and sorbet?” aku membaca nama kedai tersebut dengan intonasi bertanya. “Ini maksudnya, kita makan es krim di taplak meja? Atau gimana?”

“Hahahahah!! Naaad, kamu gak perlu nikmatin judul kedainya, kamu hanya perlu nikmatin es krimnya ya. Aku yang traktir.” Lagi-lagi Ray tidak pernah bisa menyingkirkan senyum manis menjengkelkan yang penuh kerinduan itu dariku.

“Kenapa kamu yang traktir?”

“Banyak tanya… udah ayok masuk!” Ray menggenggam pergelangan tanganku erat, lalu menarikku ke dalam. Untuk ukuran sebuah kedai ice cream, N’Ice Cream Hommade Gelato & Sorbet ini memiliki interior yang sederhana tapi mematikan. Aku mulai sedikit khawatir untuk melumat segelas es krim di kedai ini. Kami segera menghampiri etalase yang penuh dengan berbagai macam pilihan Ice cream lezat.

“Kamu mau yang mana?” tanya Ray kepadaku dengan penuh semangat.

“Yang ada disini cuma es krim Ray, jelas aku pilih es krim” Wajahku memelas. Ray menghela nafas, dengan sigap dia langsung berbicara kepada pelayan itu dalam bahasa Italy dengan sangat fasih. Sepertinya dia bertanya, ice cream bestseller di restaurant ini yang mana. Lalu pelayan itu memberi pilihan pada Ray dengan menunjuk ke beberapa bagian es krimnya.

“2 scoop of happiness for 2.” Sahut Ray kepada pelayan Ice cream.

“Okay, for the sweet couple today.” Pelayan itu tersenyum. Ternyata bisa bahasa Inggris juga. Wanita yang kelihatannya masih cukup muda untuk bekerja di sebuah kedai ice cream itu pun segera mengambil 2 jenis ice cream yang berbeda diletakkan didalam satu cup dan tidak lupa dengan topping buah-buahan diatasnya. “Chocolate Hazelnut & Blackberry Pistachio for the girl.” Ucap pelayan itu sambil memberikan ice creamnya kepadaku. “And Torrone Ruttego & Salted Caramel for the boy.” Lalu dia memberikan ice cream untuk Ray. Aku hanya tersenyum memandangi keduanya.

        Lalu kami segera berjalan keluar, mencari tempat duduk di pinggir kota yang bersih dan segar untuk melumat ice cream terlezat di Venice ini hingga habis.

          “Grazie, Ray.”

          “*Nessun problema, Cara. Ayo dimakan dong es krim nya.” Ray mulai melumat sesendok demi sesendok es krim miliknya. (*no problem, Dear)

         “Gila!!! Enak banget ini es krim!!! Maaf aku norak, tapi ini enak banget! Di Jakarta gak ada Ray, kalo kita bawa pulang bisa gak ya?” Lidahku kelilipan es krim paling enak sejagad raya.

         “Nad… kumat kan. Ya kalo gak ada freezernya kan lumer Sugaaar…” Ray menghela nafas. “Cobain punya aku deh, ini enak juga.” Ray menyodorkan sendok berisi Ice cream miliknya. Aku pun mencicipinya.

             “Ray! Es krim kamu ko rasa garem?” aku berteriak keheranan dengan kerutan di keningku yang bertumpuk. “Mereka pasti salah ngasih bumbu pas bikin es krim yang kamu makan itu deh!” lagi-lagi lidah ku tidak bisa di rem.

             “Nadaaaaa…. Namanya juga salted caramel ya asin manis gitu rasanya, bukan asin sih gurih gitu. Kamu kenapa oon gini sih.” Air muka Ray berubah menyedihkan.

              “Kamu yakin itu bukan garem yang di bentuk kayak es krim?” tanyaku plongo. Dengan tiba-tiba saja Ray menyerangku dengan memeluk tubuhku erat sambil menjitak seluruh bagian kepalaku. Kami pun tertawa menikmati suasana yang telah hilang 9 tahun lalu.

          “Oh iya, katanya kamu mau cerita tentang cowok yang ada di foto itu?  Dia siapa?”

          “Mhh… itu, kita temen baik gitu. Namanya Agung, Agung Budiharjoe. Kita kenal waktu pembuatan buku tahunan sekolah.” Aku berhenti sejenak, lalu kembali bercerita.  “Aku sayang sama Agung, tapi rasa sayang kami sebatas sahabat.”

          “Kenapa? Emang kamu gak ada rasa untuk milikin Agung?”

          “Aku kan belum selesai cerita Ray.”

          “Oke.”

        “Kami sama sama sayang, tapi Agung udah punya pacar. Dan itu membuat Aku untuk mengurungkan niat mencintai dia jauh dari rasa yang sekarang ada. Tapi ternyata gak bisa. Dia udah buat Aku gak tidur semaleman cuma karna aku bingung harus pamit atau enggak saat akan berangkat ke Verona nanti.”

          “Jadi, dia gak tau kalo sekarang kamu ada disini??? Kamu gila???” Ray tersentak kesal melihatku begitu mudahnya menyerah.

         “Aku gak bisa Ray, Aku gak bisa ninggalin dia dengan bertatap langsung sama dia, Aku gak kuat.”

        “Kamu bodoh banget sih Naaad… Bodoooh!” sementara Aku hanya mengangguk pelan mendengar makian Ray yang menjengkelkan itu. “Dia tau kalo kamu juga ada perasaan lebih sama dia?”

        “Ray, udah Aku bilang, Agung cuma tau perasaan Aku ke dia sekedar sayang sebagai temen deket. Dia gak tau Aku nyimpen perasaan lebih, di balik semua yang udah dia dan Aku lewatin sama-sama.”

          “Kamu bodoh banget Naaad, kamu bodoh!”

        “Kamu ini kenapa sih? Ngatain aku mulu dari tadi!? iya Aku tau, gak seharusnya Aku ninggalin Agung kayak gitu aja! Tapi kan…” belum sempat Aku melanjutkan kalimatku. Dengan kilatnya Ray mencium bibirku lekat, tak terlepas hanya agar aku berhenti bicara. Lalu melepaskannya. “RAY!!!”

          “Ssshhh… Nad, Aku kehilangan Sugarusa-ku 9 tahun yang lalu, dan sekarang dia mencintai orang lain. Aku tau mendapatkan cinta sugarusa-ku ini gak gampang. Dan bodoh kalo kamu sia-siain waktu kamu untuk gak ngungkapin perasaan kamu ke laki-laki itu.”

         “Tapi kan Agung…” Aku yang belum selesai bicara, segera saja di sekat oleh Ray.

          “Iya, Agung udah punya pacar Aku tau. Setidaknya dia berhak tau Nada…”

          “Tapi tadi…. Kamu…. Ci…um Aku?” Aku masih syok, tercengang parah.

          “*Ti amo, Nada. Ho paura di perdere di nuovo.” Ucap Ray lemah. (*Aku cinta kamu, Nada. Aku takut kehilangan kamu lagi.)

          “Tapi Ray…”

       “Maaf, maaf kalo Aku udah lancang.” Ray bangun dari bangku kota. Ternyata beberapa mata ada yang tengah menyaksikan adegan menyebalkan itu, dan mereka tersenyum ke arah kami dan melihat kami seolah pasangan yang sangat romantis. Ih. “Ayo kita cari dress untuk acara nanti.”

          Setelah kejadian tadi, Ray membuat suasana diantara kami menjadi canggung dan diselimuti dengan kesunyian. Mungkin Ray terlalu terbawa suasana kota Venice yang indah ini atau memang dia yang terlalu gila. Entahlah, Aku sendiri bingung harus merasa marah atau bahagia saat cinta pertama ku sendiri yang memberiku ciuman untuk yang pertama kali.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net