Tak
lama kami tiba di sebuah kota mewah, megah nan indah, begitu memukau siapa pun
yang datang dan berkunjung untuk menikmati arsitektur bangunan-bangunan tua di
Venice. Salah satu arsitektur bangunan yang menjadi perhatian utamaku adalah
bangunan Ca’D’Oro dan Doge Palace, yang mana mereka menggunakan arsitektur yang
mengkombinasikan penggunaan lengkungan gothic dengan pengaruh arsitektur
bizantium dan gaya moor. Dan kebanyakan orang mengenal nama arsitektur ini
dengan sebutan Venetian Gothic. Gaya ini
mendapat pengaruh gaya bizantium dari konstantinopel dan pengaruh arab dari
kaum moor spanyol, biar terdengar rumit arsiktektur Venetian Gothic ini penekanannya pada struktur yang ringan dan
anggun. Aku teramat menyukai
pekerjaan apa pun yang berhubungan dengan seni, entah seni lukis, musik,
arsitektur bangunan, atau pun design interior. Sebab yang di butuhkan dalam
pekerjaan itu tidak hanya skill tapi juga ide cemerlang untuk membuat
orang-orang tertarik untuk memilikinya.
“Nada….”
“Si
Ray?”
“As
always! Hahahaha!!” aku pun turut tersenyum saat menyadari Ray selalu tau apa
yang menjadi kesukaanku. Ray membawaku ke sebuah kedai ice cream terlezat di
Venesia dengan namanya yang cukup rumit untuk dibaca.
“N’Ice…Cream
hommade gelato and sorbet?” aku membaca nama kedai tersebut dengan intonasi
bertanya. “Ini maksudnya, kita makan es krim di taplak meja? Atau gimana?”
“Hahahahah!!
Naaad, kamu gak perlu nikmatin judul kedainya, kamu hanya perlu nikmatin es
krimnya ya. Aku yang traktir.” Lagi-lagi Ray tidak pernah bisa menyingkirkan
senyum manis menjengkelkan yang penuh kerinduan itu dariku.
“Kenapa
kamu yang traktir?”
“Banyak
tanya… udah ayok masuk!” Ray menggenggam pergelangan tanganku erat, lalu
menarikku ke dalam. Untuk ukuran sebuah kedai ice cream, N’Ice Cream Hommade
Gelato & Sorbet ini memiliki interior yang sederhana tapi mematikan. Aku mulai
sedikit khawatir untuk melumat segelas es krim di kedai ini. Kami segera
menghampiri etalase yang penuh dengan berbagai macam pilihan Ice cream lezat.
“Kamu
mau yang mana?” tanya Ray kepadaku dengan penuh semangat.
“Yang
ada disini cuma es krim Ray, jelas aku pilih es krim” Wajahku memelas. Ray
menghela nafas, dengan sigap dia langsung berbicara kepada pelayan itu dalam
bahasa Italy dengan sangat fasih. Sepertinya dia bertanya, ice cream bestseller
di restaurant ini yang mana. Lalu pelayan itu memberi pilihan pada Ray dengan
menunjuk ke beberapa bagian es krimnya.
“2
scoop of happiness for 2.” Sahut Ray kepada pelayan Ice cream.
“Okay,
for the sweet couple today.” Pelayan itu tersenyum. Ternyata bisa bahasa
Inggris juga. Wanita yang kelihatannya masih cukup muda untuk bekerja di sebuah
kedai ice cream itu pun segera mengambil 2 jenis ice cream yang berbeda
diletakkan didalam satu cup dan tidak lupa dengan topping buah-buahan diatasnya.
“Chocolate Hazelnut & Blackberry Pistachio for the girl.” Ucap pelayan itu
sambil memberikan ice creamnya kepadaku. “And Torrone Ruttego & Salted
Caramel for the boy.” Lalu dia memberikan ice cream untuk Ray. Aku hanya
tersenyum memandangi keduanya.
Lalu kami segera berjalan keluar, mencari tempat duduk di
pinggir kota yang bersih dan segar untuk melumat ice cream terlezat di Venice
ini hingga habis.
“Grazie, Ray.”
“*Nessun problema, Cara. Ayo dimakan dong es krim nya.” Ray mulai
melumat sesendok demi sesendok es krim miliknya. (*no problem, Dear)
“Gila!!! Enak banget ini es krim!!! Maaf aku norak, tapi
ini enak banget! Di Jakarta gak ada Ray, kalo kita bawa pulang bisa gak ya?”
Lidahku kelilipan es krim paling enak sejagad raya.
“Nad… kumat kan. Ya kalo gak ada freezernya kan lumer
Sugaaar…” Ray menghela nafas. “Cobain punya aku deh, ini enak juga.” Ray menyodorkan
sendok berisi Ice cream miliknya. Aku pun mencicipinya.
“Ray! Es krim kamu ko rasa garem?” aku berteriak keheranan
dengan kerutan di keningku yang bertumpuk. “Mereka pasti salah ngasih bumbu pas
bikin es krim yang kamu makan itu deh!” lagi-lagi lidah ku tidak bisa di rem.
“Nadaaaaa…. Namanya juga salted caramel ya asin manis gitu
rasanya, bukan asin sih gurih gitu. Kamu kenapa oon gini sih.” Air muka Ray
berubah menyedihkan.
“Kamu yakin itu bukan garem yang di bentuk kayak es krim?”
tanyaku plongo. Dengan tiba-tiba saja Ray menyerangku dengan memeluk tubuhku
erat sambil menjitak seluruh bagian kepalaku. Kami pun tertawa menikmati suasana
yang telah hilang 9 tahun lalu.
“Oh iya, katanya kamu mau cerita tentang cowok yang ada di
foto itu? Dia siapa?”
“Mhh… itu, kita temen baik gitu. Namanya Agung, Agung
Budiharjoe. Kita kenal waktu pembuatan buku tahunan sekolah.” Aku berhenti
sejenak, lalu kembali bercerita. “Aku sayang sama Agung, tapi rasa sayang kami
sebatas sahabat.”
“Kenapa? Emang kamu gak ada rasa untuk milikin Agung?”
“Aku kan belum selesai cerita Ray.”
“Oke.”
“Kami sama sama sayang, tapi Agung udah punya pacar. Dan itu
membuat Aku untuk mengurungkan niat mencintai dia jauh dari rasa yang sekarang
ada. Tapi ternyata gak bisa. Dia udah buat Aku gak tidur semaleman cuma karna
aku bingung harus pamit atau enggak saat akan berangkat ke Verona nanti.”
“Jadi, dia gak tau kalo sekarang kamu ada disini??? Kamu gila???”
Ray tersentak kesal melihatku begitu mudahnya menyerah.
“Aku gak bisa Ray, Aku gak bisa ninggalin dia dengan
bertatap langsung sama dia, Aku gak kuat.”
“Kamu bodoh banget sih Naaad… Bodoooh!” sementara Aku hanya
mengangguk pelan mendengar makian Ray yang menjengkelkan itu. “Dia tau kalo
kamu juga ada perasaan lebih sama dia?”
“Ray, udah Aku bilang, Agung cuma tau perasaan Aku ke dia sekedar
sayang sebagai temen deket. Dia gak tau Aku nyimpen perasaan lebih, di balik
semua yang udah dia dan Aku lewatin sama-sama.”
“Kamu bodoh banget Naaad, kamu bodoh!”
“Kamu ini kenapa sih? Ngatain aku mulu dari tadi!? iya Aku
tau, gak seharusnya Aku ninggalin Agung kayak gitu aja! Tapi kan…” belum sempat
Aku melanjutkan kalimatku. Dengan kilatnya Ray mencium bibirku lekat, tak
terlepas hanya agar aku berhenti bicara. Lalu melepaskannya. “RAY!!!”
“Ssshhh… Nad, Aku kehilangan Sugarusa-ku 9 tahun yang lalu,
dan sekarang dia mencintai orang lain. Aku tau mendapatkan cinta sugarusa-ku
ini gak gampang. Dan bodoh kalo kamu sia-siain waktu kamu untuk gak ngungkapin
perasaan kamu ke laki-laki itu.”
“Tapi kan Agung…” Aku yang belum selesai bicara, segera
saja di sekat oleh Ray.
“Iya, Agung udah punya pacar Aku tau. Setidaknya dia berhak
tau Nada…”
“Tapi tadi…. Kamu…. Ci…um Aku?” Aku masih syok, tercengang
parah.
“*Ti amo, Nada. Ho
paura di perdere di nuovo.” Ucap Ray lemah. (*Aku cinta kamu, Nada. Aku
takut kehilangan kamu lagi.)
“Tapi Ray…”
“Maaf, maaf kalo Aku udah lancang.” Ray bangun dari bangku
kota. Ternyata beberapa mata ada yang tengah menyaksikan adegan menyebalkan
itu, dan mereka tersenyum ke arah kami dan melihat kami seolah pasangan yang
sangat romantis. Ih. “Ayo kita cari dress untuk acara nanti.”
0 comments:
Post a Comment