Setelah berjalan
menyusuri kota Venice yang indah dengan udaranya yang begitu sejuk, kami pun
memasuki sebuah butik gaun yang cukup ternama di kota pasta ini.
“Ray, kamu yakin kita cari gaun disini?” Aku meragukan
langkahku untuk masuk ke dalam butik. Sementara Ray hanya mengangguk pelan
seraya tersenyum menatapku.
“Ayo Nad…” Tubuhku seolah lemah tak berdaya, hanya
mengikuti arus air kemana Ia pergi. Aku memperhatikan ke sekeliling butik,
dimana begitu banyak gaun-gaun mewah di gantungkan. Lalu mataku terpaku pada
sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan lapisan kain semi transparan
berwarna gold diluarnya, terlihat gaun ini begitu mewah dan cantik, dengan
sedikit kilauan pernak-pernik di bagian kerah berbentuk ‘V’ serta di beberapa
bagian lainnya. Ku sentuh gaun itu dengan ke empat ujung jariku perlahan dari
atas ke bawah. “Nad?” Aku tiba-tiba tersentak mendengar suara Ray yang
menyapaku pelan.
“Ready for looking the dress Ma’am?” ucap Ray menggoda.
“Sure…” Aku sedikit tertawa melihat ekspresi wajahnya.
Kami pun mulai melihat satu per satu gaun yang akan menjadi teman bersandingku
saat di pameran nanti. Sejauh ini Ray yang memilihkan model untukku namun belum
ada satu pun yang menarik perhatianku. Sampai akhirnya Aku menemukan gaun
pilihanku sendiri, Aku menghampiri sebuah manekin yang terpajang di butik
tersebut dengan model gaun yang sangat simple namun classy. Dress berwarna
hitam sepanjang lutut dengan model turtle-neck dan panjang lengan sampai sikut,
dan beberapa manik-manik berwarna hitam mengkilap di bagian leher yang
membentuk kalung. Gaun simple yang di design sesuai lekuk tubuh ini
terlihat anggun bagi siapa pun yang mengenakannya. Cantik.
“Aku suka yang ini Ray.” Ucapku sambil menyentuh manekin
yang di pajang menggunakan gaun faovritku ini.
“Kamu yakin? Itu gak terlalu simple?” Tanya Ray ragu.
“Kalo yang simple aja udah buat Aku jatuh hati, berarti
gak perlu glamour kan?” Aku tersenyum santai.
“It’s so you Nada, kamu emang gak pernah berubah.” Jawab
Ray. Ia lalu berjalan ke arahku. “Okay, I’ll take this for you.” Dan segera Ray
meminta kepada pelayan butik untuk mengambilkan gaun pilihanku itu. Dan kami
kembali menuju kota kecil Verona dengan kereta yang sama.
“By the way, thank you for the dress.” Ucapku sungkan.
“No matter, anggap aja ini utang kado ulang tahun dari
Aku yang udah nunggak selama 9 tahun.” Ray tertawa pelan memecah keheningan,
sementara kereta ini masih akan terus melaju selama kurang lebih satu jam.
“Hahahaha! Memangnya kredit motor apa pake nunggak
segala.” Kini aku tidak lagi berani menatap mata Ray. Entah kenapa, perasaan
ini kacau saat Ray menciumku di Venice siang tadi. Aku hanya mampu mendekap
kantong belanja yang berisi gaun dari Ray.
“Nad…”
“Si?”
“Kamu marah?” Mata Ray menatap jauh ke dalam mataku.
“Marah?”
“Iya, karna Aku udah lancang cium kamu tadi.”
Aku yang tidak berani menjawab apa pun dari pertanyaan
Ray, hanya mampu tersenyum kaku menatap ke dalam matanya.
“Nad, dengerin aku…” Ray mulai menggenggam tanganku
perlahan. “Mungkin, aku udah gak ada lagi di hati kamu. Sebab 9 tahun bukan
waktu yang sedikit untuk memperjuangkan cinta sendiri.” Ray menghela nafas,
sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Salah aku pula, yang terlalu takut menunjukan
diri di hadapan kamu, aku bukan laki-laki gentle untuk masalah perasaan. Aku
cengeng, bahkan baru sekarang aku berani bilang kalo selama 9 tahun ini aku
nunggu kamu untuk pulang. Karna hati aku ini rumah kamu.” Mata Ray mulai
berkaca-kaca, sementara kebisingan kereta terdengar jelas di telingaku, kami di
kelilingi kesunyian. “Puji Tuhan, aku bersyukur kita di pertemukan tanpa
sengaja seperti ini di negara orang. Karna aku yakin kamu pasti kembali, cinta
pasti kembali pada pemilik aslinya. Cinta selalu pulang Nad. Dan sekarang,
tinggal kamu pilih kamu mau masuk atau tetap tinggal diluar? Kedinginan,
kehujanan, kepanasan?”
“Jadi maksud kamu apa?” Bibirku bergetar, hanyut dalam
suasana. Aku takut, aku ragu. Cinta pertamaku atau Agung atau akan ada cinta
yang lain? Pikiranku kalut. Tapi entah kenapa di negara seromantis ini, justru
perasaanku pada Ray tidak seperti sebelumnya, yang keyakinanku begitu kuat bahwa
dialah cinta dalam abadi.
“Be my girl, Nad… will you? Isi lagi rumah yang udah lama
kosong di tinggal pemiliknya.”
Aku hanya bisa duduk mematung dengan bibir sedikit
menganga. Ini pasti mimpi, ini gak mungkin. Ray, cowok playboy yang begitu
terkenal di kampusnya itu, bahkan dia memiliki beberapa mantan dari kampusku,
dan kini memintaku untuk pulang? Mungkin iya sebaiknya Aku pulang, ke negara
asalku. Begitu lebih baik
.
“Kasih aku waktu Ray, ini bukan pilihan mudah.” Aku berkeringat
dingin.
“Aku tau, pasti karna Agung. Oke, aku tunggu.”
0 comments:
Post a Comment