Sunday, August 3, 2014

He Is Mr. A (Part I)

Posted by Unknown at 4:00 AM
            Jakarta,

Mata itu beserta tatapannya, akan menjadi tatapan favoritku.
Yang akan menjadi tatapan kedamaian batinku.
Inginku terbang mengarungi samudera, mengelilingi bumi Tuhan.
Bersama mu, hanya dengan mu Aku akan terbang, A…

-Nada-
           
            “Ray…?”


           “Eh Nad!” Ray tersentak mendengarku menyapanya saat tengah membaca sesuatu. Dengan sigap Ia langsung memasukan sesuatu ke dalam tas dari genggamannya. “Kamu udah siap?” Namun dengan tiba-tiba ekspresi Ray berubah tercengang saat Aku keluar dari kamar mandi dan sudah selesai berdandan namun masih dengan penampilanku yang simple.

            “Hey, are you okay?  Bengong gitu. Liat hantu? Hahaha!”

         “Kamu… Cantik Nad.” Ray tersipu. “Aku bersyukur bisa milikin kamu walau pun hanya sebatas temen deket atau sahabat.”

          “Ray… meskipun cinta selalu pulang, terkadang banyak yang harus di perbaiki di dalamnya.” Aku menggenggam tangan Ray pelan. “Cerita cinta kita, hanya berlaku pada masanya. Sekarang, inilah cerita yang baru. Aku juga sayang sama kamu. Maaf kalau aku gak bisa pulang ke rumah ku yang dulu.” Aku pun memeluk Ray dengan berat hati. Begitu banyak pertimbangan semenjak Ray memintaku untuk menjadi kekasihnya seminggu yang lalu. Di samping kami berbeda agama, jelas semuanya telah berbeda. “Ayo, kita berangkat.”

            Aku dan Ray segera melaju menghadiri sebuah pameran seni di Kota Terapung. Dengan mobil taksi kami menyusuri langit malam Italy. Benar-benar suasana yang menenangkan. Aku sudah tidak sabar untuk segera tiba di gedung Museum of Modern Art and Oriental dimana itu adalah lokasi pameran seni berlangsung.

            “Sipit, kamu yakin bakal betah liat ratusan karya seni lukis dan beberapa pahatan patung di gedung nanti?” Tanyaku sedikit meremehkan Ray yang memang pada aslinya Ia tidak begitu suka dengan seni.

            “Hahaha, Nad. Lagi pula kalo aku gak betah, aku bisa keluar. Banyak restoran kan disana.” Jawab Ray santai.

            “Okay…”

            Hingga akhirnya waktu yang di tunggu itu tiba. Kami sampai di tempat tujuan dimana semua teman-teman kampusku sudah mulai berdatangan, serta beberapa tamu undangan dari universitas dan lembaga lainnya. Pameran seni di sebuah bangunan yang di kenal sebagai Ca ‘Pesaro ini memiliki koleksi menarik dari gallery-nya. Museum ini memiliki lukisan dan patung oleh seniman dari abad ke-20 dan ke-19 seperti: Klimt, Chagall, Kandinsky, Klee, Matisse, Moore, Miro, De Chirico, Rodin. Sementara, di lantai 2 terdapat koleksi besar potongan-potongan seni Oriental. Yang membuat Aku teramat kagum dengan museum ini adalah mereka juga menyimpan beberapa koleksi terbaik yang berasal dari Indonesia. Dimana koleksi seni Oriental ini dibagi menjadi 2 bagian, China dan Indonesia pada satu sisi dan Jepang di sisi lain.

         “Nadaaaa!! Finally, you’re come! You look gorgeous!” seseorang meneriaki ku dari jauh sambil berjalan mendekatiku.

           “Niiick! Thanks, Of course I’ll come, I won’t miss this spectacular night! Hahaha!” Aku memeluk Nick kegirangan. “Oh by the way, let me introduce my friends, Ray.” Aku memperkenalkan Ray dengan Nicholas.

            “Hi Ray, nice to see you here.”

            “Thanks Nick, me too.” Jawab Ray ketus. Tidak seperti biasanya.

          “Wait a minute, are you Ramothy Wayne? I know you right. You’re Jessica’s ex-boyfriend, my sister.” Nick bertanya keheranan. Dengan kerutan di keningnya yang bertumpuk bagai buku rongsok. Sementara aku hanya cekikian mendengar pernyataan dan pertanyaan Nick kepada Ray. Memperhatikan raut wajah Ray yang syok sambil membelalakan kedua bola matanya seolah bicara pada Nick untuk jangan membongkar rahasianya. Pantas saja, sejak awal bertemu Ray begitu ketus melihat Nick menghampiriku. Lucu.

            “Wohooo… calm down dude, it’s very a small world huh? Hahahah!” Aku tertawa puas.

            “Nada, he’s your boyfriend now?” Tanya Nick heran bercampur panik.

          “Nope, we’re just friends.” Aku menyenggol Ray dengan sikut ku.ku tatap wajahnya kini terlihat penuh dendam kesumat dengan Nicholas yang sudah membongkar kisah masa lalunya dengan saudara kandung Nick.

            “Yeah, we’re friends for now. But I’ll marry you soon.” Dengan tatapan nyolot menghadap tepat di depan wajahku Ray bicara lalu pergi meninggalkan kami berdua yang tengah tertawa kecil, dan ucapan Ray membuatku tidak mood untuk tertawa lagi. Sementara Nick hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ray yang ketus dan asal bicara.

            “Nada, how can you meet him?” Tanya Nick penasaran.

            “It’s very a long story.”

            “Okay, well I’ll leave you for a while. Is it okay?”

            “Yeah sure, I’m fine.”

            “Enjoy the Expo Nada.”

          “Thanks.” Nick pun langsung beranjak meninggalkan ku dan bertemu dengan para tamu undangan lain. Dia memang begitu ramah dan cepat akrab dengan semua orang. Bahkan terkadang saat di kampus, kucing lewat pun Ia ajak bicara. Aku yang saat itu masih berdiri di depan pintu masuk Museum dengan segera berjalan masuk, melihat satu persatu lukisan yang terpampang di dinding-dinding gedung. Aku menoleh ke kanan dan kiri seraya mencari Ray yang sudah 10 menit menghilang. Ray tidak akan sanggup menghilang selama ini dariku. Entahlah, sambil menunggunya kembali Aku masih terus berkeliling melihat-lihat setiap lukisan-lukisan yang ada, sangat luar biasa. Lalu Aku di buat terpaku pada salah satu lukisan potrait wajah seseorang yang di lukis close up, dengan hanya satu mata, hidung dan bibir yang terlihat. Namun mata pada lukisan itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang kini sedang tidak bersamaku.

            “Hai Nada…”

         “Ray, kamu kema…na…” Sambil membalikan badan belum sempat Aku menyelesaikan kalimatku menyapa balik. Saat ku kira itu adalah Ray namun ternyata Aku salah besar. Kali ini Ia bukan tamu yang Aku harapkan kehadirannya. Benar-benar seketika lambungku naik dan rasa ingin muntah, gugup, dingin, sekujur tubuhku gemetar, Aku ingin berteriak meminta tolong, namun tidak ada sedikit pun gelombang suara yang keluar. “Ka…kamu…”

            “Iya Lendir jeleeek, ini aku. Kamu jahat gak pamit mau pergi jauh dari aku.” Seketika lelaki itu mendekapku tanpa ragu, dan lagi-lagi Aku hanya mampu berdiri mematung.

            “Kamu… gimana bisa???” Aku tidak tau harus bertanya apa, yang jelas saat ini Aku hanya butuh penjelasan.


           “Yuk, kita sambil makan es krim coklat kesukaan kamu. Aku bakal kasih tau alasannya kenapa aku ada disini sekarang.” Ajaknya sambil menggenggam tanganku. Suara yang sudah lama ku rindukan, mata itu, mata sayup penuh keteduhan saat menatapnya, bibir yang selalu mengucap kalimat semangat untukku, tangan yang selalu menopangku dari jauh dengan do’a. Dia Agung Budiharjoe, Pilot, Regulus, Langit, Sungai, Bulan. Dialah yang selalu ku sebut dengan “Segalanya” kini berada tepat dihadapanku.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net