Jakarta,
Mata itu beserta
tatapannya, akan menjadi tatapan favoritku.
Yang akan menjadi
tatapan kedamaian batinku.
Inginku terbang
mengarungi samudera, mengelilingi bumi Tuhan.
Bersama mu,
hanya dengan mu Aku akan terbang, A…
-Nada-
“Ray…?”
“Eh Nad!” Ray tersentak mendengarku
menyapanya saat tengah membaca sesuatu. Dengan sigap Ia langsung memasukan
sesuatu ke dalam tas dari genggamannya. “Kamu udah siap?” Namun dengan
tiba-tiba ekspresi Ray berubah tercengang saat Aku keluar dari kamar mandi dan
sudah selesai berdandan namun masih dengan penampilanku yang simple.
“Hey, are you okay? Bengong gitu. Liat hantu? Hahaha!”
“Kamu… Cantik Nad.” Ray tersipu. “Aku
bersyukur bisa milikin kamu walau pun hanya sebatas temen deket atau sahabat.”
“Ray… meskipun cinta selalu pulang,
terkadang banyak yang harus di perbaiki di dalamnya.” Aku menggenggam tangan
Ray pelan. “Cerita cinta kita, hanya berlaku pada masanya. Sekarang, inilah
cerita yang baru. Aku juga sayang sama kamu. Maaf kalau aku gak bisa pulang ke
rumah ku yang dulu.” Aku pun memeluk Ray dengan berat hati. Begitu banyak
pertimbangan semenjak Ray memintaku untuk menjadi kekasihnya seminggu yang
lalu. Di samping kami berbeda agama, jelas semuanya telah berbeda. “Ayo, kita
berangkat.”
Aku dan Ray segera melaju menghadiri
sebuah pameran seni di Kota Terapung. Dengan mobil taksi kami menyusuri langit
malam Italy. Benar-benar suasana yang menenangkan. Aku sudah tidak sabar untuk
segera tiba di gedung Museum of Modern Art and Oriental dimana itu adalah
lokasi pameran seni berlangsung.
“Sipit, kamu yakin bakal betah liat
ratusan karya seni lukis dan beberapa pahatan patung di gedung nanti?” Tanyaku
sedikit meremehkan Ray yang memang pada aslinya Ia tidak begitu suka dengan
seni.
“Hahaha, Nad. Lagi pula kalo aku gak
betah, aku bisa keluar. Banyak restoran kan disana.” Jawab Ray santai.
“Okay…”
Hingga akhirnya waktu yang di tunggu
itu tiba. Kami sampai di tempat tujuan dimana semua teman-teman kampusku sudah
mulai berdatangan, serta beberapa tamu undangan dari universitas dan lembaga
lainnya. Pameran seni di sebuah bangunan yang di kenal sebagai Ca ‘Pesaro ini
memiliki koleksi menarik dari gallery-nya. Museum ini memiliki lukisan dan
patung oleh seniman dari abad ke-20 dan ke-19 seperti: Klimt, Chagall,
Kandinsky, Klee, Matisse, Moore, Miro, De Chirico, Rodin. Sementara, di lantai
2 terdapat koleksi besar potongan-potongan seni Oriental. Yang membuat Aku
teramat kagum dengan museum ini adalah mereka juga menyimpan beberapa koleksi
terbaik yang berasal dari Indonesia. Dimana koleksi seni Oriental ini dibagi
menjadi 2 bagian, China dan Indonesia pada satu sisi dan Jepang di sisi lain.
“Nadaaaa!! Finally, you’re come! You
look gorgeous!” seseorang meneriaki ku dari jauh sambil berjalan mendekatiku.
“Niiick! Thanks, Of course I’ll
come, I won’t miss this spectacular night! Hahaha!” Aku memeluk Nick
kegirangan. “Oh by the way, let me introduce my friends, Ray.” Aku memperkenalkan
Ray dengan Nicholas.
“Hi Ray, nice to see you here.”
“Thanks Nick, me too.” Jawab Ray
ketus. Tidak seperti biasanya.
“Wait a minute, are you Ramothy
Wayne? I know you right. You’re Jessica’s ex-boyfriend, my sister.” Nick
bertanya keheranan. Dengan kerutan di keningnya yang bertumpuk bagai buku
rongsok. Sementara aku hanya cekikian mendengar pernyataan dan pertanyaan Nick
kepada Ray. Memperhatikan raut wajah Ray yang syok sambil membelalakan kedua
bola matanya seolah bicara pada Nick untuk jangan membongkar rahasianya. Pantas
saja, sejak awal bertemu Ray begitu ketus melihat Nick menghampiriku. Lucu.
“Wohooo… calm down dude, it’s very a
small world huh? Hahahah!” Aku tertawa puas.
“Nada, he’s your boyfriend now?”
Tanya Nick heran bercampur panik.
“Nope, we’re just friends.” Aku menyenggol
Ray dengan sikut ku.ku tatap wajahnya kini terlihat penuh dendam kesumat dengan
Nicholas yang sudah membongkar kisah masa lalunya dengan saudara kandung Nick.
“Yeah, we’re friends for now. But I’ll
marry you soon.” Dengan tatapan nyolot menghadap tepat di depan wajahku Ray
bicara lalu pergi meninggalkan kami berdua yang tengah tertawa kecil, dan
ucapan Ray membuatku tidak mood untuk tertawa lagi. Sementara Nick hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ray yang ketus dan asal bicara.
“Nada, how can you meet him?” Tanya
Nick penasaran.
“It’s very a long story.”
“Okay, well I’ll leave you for a
while. Is it okay?”
“Yeah sure, I’m fine.”
“Enjoy the Expo Nada.”
“Thanks.” Nick pun langsung beranjak
meninggalkan ku dan bertemu dengan para tamu undangan lain. Dia memang begitu
ramah dan cepat akrab dengan semua orang. Bahkan terkadang saat di kampus,
kucing lewat pun Ia ajak bicara. Aku yang saat itu masih berdiri di depan pintu
masuk Museum dengan segera berjalan masuk, melihat satu persatu lukisan yang
terpampang di dinding-dinding gedung. Aku menoleh ke kanan dan kiri seraya
mencari Ray yang sudah 10 menit menghilang. Ray tidak akan sanggup menghilang
selama ini dariku. Entahlah, sambil menunggunya kembali Aku masih terus
berkeliling melihat-lihat setiap lukisan-lukisan yang ada, sangat luar biasa. Lalu
Aku di buat terpaku pada salah satu lukisan potrait wajah seseorang yang di
lukis close up, dengan hanya satu mata, hidung dan bibir yang terlihat. Namun mata
pada lukisan itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang kini sedang tidak
bersamaku.
“Hai Nada…”
“Ray, kamu kema…na…” Sambil
membalikan badan belum sempat Aku menyelesaikan kalimatku menyapa balik. Saat ku
kira itu adalah Ray namun ternyata Aku salah besar. Kali ini Ia bukan tamu yang
Aku harapkan kehadirannya. Benar-benar seketika lambungku naik dan rasa ingin
muntah, gugup, dingin, sekujur tubuhku gemetar, Aku ingin berteriak meminta
tolong, namun tidak ada sedikit pun gelombang suara yang keluar. “Ka…kamu…”
“Iya Lendir jeleeek, ini aku. Kamu
jahat gak pamit mau pergi jauh dari aku.” Seketika lelaki itu mendekapku tanpa
ragu, dan lagi-lagi Aku hanya mampu berdiri mematung.
“Kamu… gimana bisa???” Aku tidak tau
harus bertanya apa, yang jelas saat ini Aku hanya butuh penjelasan.
“Yuk, kita sambil makan es krim
coklat kesukaan kamu. Aku bakal kasih tau alasannya kenapa aku ada disini
sekarang.” Ajaknya sambil menggenggam tanganku. Suara yang sudah lama ku
rindukan, mata itu, mata sayup penuh keteduhan saat menatapnya, bibir yang
selalu mengucap kalimat semangat untukku, tangan yang selalu menopangku dari
jauh dengan do’a. Dia Agung Budiharjoe, Pilot, Regulus, Langit, Sungai, Bulan. Dialah
yang selalu ku sebut dengan “Segalanya” kini berada tepat dihadapanku.
0 comments:
Post a Comment