(RAMOTHY TRISNA WIJAYA)
“Diary Nada…” Aku mengeluarkan
sebuah buku diary kecil yang ku ambil dari meja telepon di dekat tempat tidur
Nada. Dari awal Aku selalu penasaran dengan isi yang ada di dalamnya. “Maafin
aku Nad, aku udah diem-diem nyuri diary kamu. Aku janji aku bakal balikin ini
secepatnya.” Sambil berbicara pada sebuah benda mati yang berisi rahasia hati
Nada, Aku duduk di sebuah café sambil menikmati segelas Cappucino hangat.
Ku buka
perlahan, melewati halaman demi halaman yang akan ku baca terlebih dahulu. Aku
penasaran, seperti apakah Agung yang sudah mampu mematikan hati Nada tanpa bisa
menerima Aku yang sudah bersusah payah menjaganya selama disini. Segera saja
mataku di buat terpaku pada sebuah judul tulisan dalam buku itu “TTM” bukan
‘Teman Tapi Mesra’ melainkan ‘Text To Memories’ segera saja ku buka ke lembar
selanjutnya.
“Biar Tuhan yang
menjagamu dalam jarak, dan membiarkanmu menjaga kesempurnaan di mataku.”- Agung
Budiharjoe
“Your rainbow is
only on cake, and storm is only on blackberry, But I am only in your heart.”-
Agung Budiharjoe
Ternyata isi dari ‘Text To Memories’
ini adalah kutipan-kutipan percakapan Agung dan Nada pada sebuah chat dari 2
tahun yang lalu. Aku semakin penasaran dengan kelanjutan kutipan-kutipan ini.
Adakah yang lebih mengesankan dari hanya sebuah Rainbow cake atau Blackberry
Storm? Gila. Batinku kesal.
“Semangat Almira Shaki
Nada bala balaaa!”- Agung Budiharjoe
“Goodnight bagian dari
irama jantungku.”- Agung Budiharjoe
Lalu tertulis bahwa setelah Nada
memberi semangat pada Agung melalui do’a yang Ia ucapkan agar Agung bisa
menjadi Pilot, dan lelaki itu menjawab.
“Tuhan, aku rela
yang mendo’akan ku mendapat lebih dari yang bisa aku terima.”- Agung Budiharjoe
“Soalnya kamu
item, gembul, suka jalan-jalan ke masa lalu. Huh jelek”- Agung Budiharjoe
“Apa maksudnya jalan-jalan ke masa
lalu? Emangnya Nada punya mesin waktu?” Aku bergumam pelan, terlalu kesal
membaca kalimat-kalimat ini. Nada gila, Nada pasti gila untuk jatuh cinta sama
cowok ini. Batinku masih berpikir bahwa Nada sudah gila. Dan Aku masih akan
tetap meneruskan bacaan ini.
“Kamu itu selalu bisa
membahasakan apa pun yang gak bisa aku ungkapkan. Unik memang, aku selalu
tersenyum di setiap kalimat-kalimat kamu yang paling sederhana.”- Agung
Budiharjoe
“Dan entah kenapa hal
yang kamu lakukan kebanyakan hal sama yang suka aku lakukan. Gak jelas memang,
ya tapi itulah… Aku adalah kamu… Kita manusia gak jelas, gak jelas karna hanya
kita yang mengerti.”- Agung Budiharjoe
“I want you to keep
flying Nada.”- Agung Budiharjoe
Seketika saja mataku terhenti pada
kutipan terakhir di buku ini. Aku penasaran, aku ingin mendengar beberapa
informasi langsung dari teman-teman Nada di Indonesia. Di buku ini tidak
tertulis penjelasan tentang siapa Agung dan berasal dari mana atau bagaimana
mereka bisa bertemu.
Jakarta,
Regulus, engkau
adalah keajaiban bagi kami. Masih bersinarkah? Kau adalah yang terpilih,
menjadi terang dalam gelap, menjadi arah saat tersesat. Bintang kecil namun
memiliki sinar paling terang di semesta langit... begitulah kami mengagumimu
dengan sederhana dan menjadikan mu sebagai penanda bahwa saat kau bersinar, dan
saat itulah akan selalu ada aku dan dia…
-Nada-
Jakarta,
Dia adalah
Pilotku, yang membawaku terbang mengelilingi lautan kehidupan…
Yang
memperlihatkan dan mengajariku makna dari kata ‘hidup’ itu sendiri, yang mana
memiliki arti lebih luas dari bumi ini…
Dia adalah
Sungaiku, yang diam-diam membawaku hanyut ke dalam rasa yang dinamakan cinta,
beriringan dengan Bulan dan Regulus yang lembut sinarnya sebagai bentuk
ketulusan abadi menjadi pelengkap kesempurnaan cinta itu…
Dia adalah
Langitku, yang memberi hujan saat kemarau dan memberi panas saat dingin,
terkadang menjadi badai bagi diriku sendiri…
Dia adalah
Duniaku, hutan dan lautnya sebagai sumber kehidupan, yang membuatku mengerti
untuk saling menjaga, tidak hanya keluarga tapi juga semua yang bernafas…
Dia adalah yang
kusebut segalanya, Agung Budiharjoe…
-Nada-
Aku terhenyak saat membaca curhatan
Nada yang lumayan panjang dan hanya menggambarkan bagaimana seorang laki-laki
bernama Agung bisa begitu sempurnanya dimata Nada. Sesaat terdengar sayup
alunan lagu ‘My Heart Will Go On’ yang di cover oleh Il Divo dari dalam café,
membuatku semakin terbawa dengan suasana yang membingungkan. Pikiranku terus
bertanya-tanya tentang apa yang membuat Nada begitu jatuh cinta dengan Agung.
Sepertinya mereka tidak seperti pertemanan pada umumnya, Agung dan Nada jarang
bertemu, bisa di hitung jari kehadiran lelaki yang katanya memiliki mata indah
dan suara yang bisa menenangkan batin Nada. Mereka lebih banyak memberi support
satu sama lain hanya melalui media chat.
Sambil terus membaca sedikit demi
sedikit, Aku ternyata lupa memberi kabar pada gadis yang tingkat kewarasannya
tidak ada seperempat sendok Nyam-Nyam, Nada. Dengan segera saja Ku ambil ponsel
dari kantong celanaku dan mencari nomor Nada.
Tuuuuuuut….
Tuuuuuut…
“Halo…” Seorang laki-laki menjawab
telpon Nada.
“Ha… Heh! Ini siapa!? Mana Nada!!??”
“Hooo, bisa santai bro? Saya Agung,
temennya Nada…” Jawab lelaki tampan ini dengan santainya.
“Agung? Agung Budiharjoe???” Aku
syok bukan kepalang. Rasa badan ini seperti mati, Aku baru saja membaca buku
diary Nada, dan sekarang orangnya di Itali. Ini entah semacam kutukan atau
apalah.
“Kamu tau saya? Iya saya Agung
Budiharjoe… Kamu siapa?” Mendengar suara dan gaya bahasanya, Aku mulai yakin
Agung adalah laki-laki baik, penyabar, dan sepertinya tidak mudah marah.
Terbilang cocok untuk tipikal cowok yang seharusnya menjaga perempuan
petakilan, pecicilan kayak cicak seperti Nada.
“Gue temennya Nada… Ray… By the way,
are you with her?” Tanyaku penasaran.
“Yes, Nada safe with me. She is
sleeping right now.” Ujar laki-laki itu dengan intonasi tak berdosa. SLEEPING!!??? WTF DID HE DO WITH MY
NADA!!??? Aku menjerit dalam hati, rasa ingin menggampar laki-laki
berengsek ini.
“WHAAAT!!??? MAKSUD LO TIDUR APAAN
HAH!!?? JANGAN PERNAH LO BERANI NYENTUH NADA SEDIKIT PUN!!!” Aku membentak
Agung tanpa ragu di tengah keramaian orang yang lalu lalang di café ini.
Terserah mereka mau bilang Aku tolol, yang jelas tidak ada satu pun yang boleh
nyentuh Nada milikku. Nada.
0 comments:
Post a Comment