Sunday, August 10, 2014

He Is Mr. A (Part III)

Posted by Unknown at 1:06 PM
                                              (RAMOTHY TRISNA WIJAYA)

          “Diary Nada…” Aku mengeluarkan sebuah buku diary kecil yang ku ambil dari meja telepon di dekat tempat tidur Nada. Dari awal Aku selalu penasaran dengan isi yang ada di dalamnya. “Maafin aku Nad, aku udah diem-diem nyuri diary kamu. Aku janji aku bakal balikin ini secepatnya.” Sambil berbicara pada sebuah benda mati yang berisi rahasia hati Nada, Aku duduk di sebuah café sambil menikmati segelas Cappucino hangat.

Ku buka perlahan, melewati halaman demi halaman yang akan ku baca terlebih dahulu. Aku penasaran, seperti apakah Agung yang sudah mampu mematikan hati Nada tanpa bisa menerima Aku yang sudah bersusah payah menjaganya selama disini. Segera saja mataku di buat terpaku pada sebuah judul tulisan dalam buku itu “TTM” bukan ‘Teman Tapi Mesra’ melainkan ‘Text To Memories’ segera saja ku buka ke lembar selanjutnya.
           
“Biar Tuhan yang menjagamu dalam jarak, dan membiarkanmu menjaga kesempurnaan di mataku.”- Agung Budiharjoe

“Your rainbow is only on cake, and storm is only on blackberry, But I am only in your heart.”- Agung Budiharjoe

            Ternyata isi dari ‘Text To Memories’ ini adalah kutipan-kutipan percakapan Agung dan Nada pada sebuah chat dari 2 tahun yang lalu. Aku semakin penasaran dengan kelanjutan kutipan-kutipan ini. Adakah yang lebih mengesankan dari hanya sebuah Rainbow cake atau Blackberry Storm? Gila. Batinku kesal.
                       
                        “Semangat Almira Shaki Nada bala balaaa!”- Agung Budiharjoe

                        “Goodnight bagian dari irama jantungku.”- Agung Budiharjoe

             Lalu tertulis bahwa setelah Nada memberi semangat pada Agung melalui do’a yang Ia ucapkan agar Agung bisa menjadi Pilot, dan lelaki itu menjawab.

“Tuhan, aku rela yang mendo’akan ku mendapat lebih dari yang bisa aku terima.”- Agung Budiharjoe

“Soalnya kamu item, gembul, suka jalan-jalan ke masa lalu. Huh jelek”- Agung Budiharjoe

            “Apa maksudnya jalan-jalan ke masa lalu? Emangnya Nada punya mesin waktu?” Aku bergumam pelan, terlalu kesal membaca kalimat-kalimat ini. Nada gila, Nada pasti gila untuk jatuh cinta sama cowok ini. Batinku masih berpikir bahwa Nada sudah gila. Dan Aku masih akan tetap meneruskan bacaan ini.

                       “Kamu itu selalu bisa membahasakan apa pun yang gak bisa aku ungkapkan. Unik memang, aku selalu tersenyum di setiap kalimat-kalimat kamu yang paling sederhana.”- Agung Budiharjoe
                      
                       “Dan entah kenapa hal yang kamu lakukan kebanyakan hal sama yang suka aku lakukan. Gak jelas memang, ya tapi itulah… Aku adalah kamu… Kita manusia gak jelas, gak jelas karna hanya kita yang mengerti.”- Agung Budiharjoe

                       “I want you to keep flying Nada.”- Agung Budiharjoe

            Seketika saja mataku terhenti pada kutipan terakhir di buku ini. Aku penasaran, aku ingin mendengar beberapa informasi langsung dari teman-teman Nada di Indonesia. Di buku ini tidak tertulis penjelasan tentang siapa Agung dan berasal dari mana atau bagaimana mereka bisa bertemu.
                      
Jakarta,
Regulus, engkau adalah keajaiban bagi kami. Masih bersinarkah? Kau adalah yang terpilih, menjadi terang dalam gelap, menjadi arah saat tersesat. Bintang kecil namun memiliki sinar paling terang di semesta langit... begitulah kami mengagumimu dengan sederhana dan menjadikan mu sebagai penanda bahwa saat kau bersinar, dan saat itulah akan selalu ada aku dan dia…
-Nada-


Jakarta,
Dia adalah Pilotku, yang membawaku terbang mengelilingi lautan kehidupan…
Yang memperlihatkan dan mengajariku makna dari kata ‘hidup’ itu sendiri, yang mana memiliki arti lebih luas dari bumi ini…
Dia adalah Sungaiku, yang diam-diam membawaku hanyut ke dalam rasa yang dinamakan cinta, beriringan dengan Bulan dan Regulus yang lembut sinarnya sebagai bentuk ketulusan abadi menjadi pelengkap kesempurnaan cinta itu…
Dia adalah Langitku, yang memberi hujan saat kemarau dan memberi panas saat dingin, terkadang menjadi badai bagi diriku sendiri…
Dia adalah Duniaku, hutan dan lautnya sebagai sumber kehidupan, yang membuatku mengerti untuk saling menjaga, tidak hanya keluarga tapi juga semua yang bernafas…
Dia adalah yang kusebut segalanya, Agung Budiharjoe…
-Nada-
           
        Aku terhenyak saat membaca curhatan Nada yang lumayan panjang dan hanya menggambarkan bagaimana seorang laki-laki bernama Agung bisa begitu sempurnanya dimata Nada. Sesaat terdengar sayup alunan lagu ‘My Heart Will Go On’ yang di cover oleh Il Divo dari dalam café, membuatku semakin terbawa dengan suasana yang membingungkan. Pikiranku terus bertanya-tanya tentang apa yang membuat Nada begitu jatuh cinta dengan Agung. Sepertinya mereka tidak seperti pertemanan pada umumnya, Agung dan Nada jarang bertemu, bisa di hitung jari kehadiran lelaki yang katanya memiliki mata indah dan suara yang bisa menenangkan batin Nada. Mereka lebih banyak memberi support satu sama lain hanya melalui media chat.

          Sambil terus membaca sedikit demi sedikit, Aku ternyata lupa memberi kabar pada gadis yang tingkat kewarasannya tidak ada seperempat sendok Nyam-Nyam, Nada. Dengan segera saja Ku ambil ponsel dari kantong celanaku dan mencari nomor Nada.

            Tuuuuuuut…. Tuuuuuut…

            “Halo…” Seorang laki-laki menjawab telpon Nada.

            “Ha… Heh! Ini siapa!? Mana Nada!!??”

            “Hooo, bisa santai bro? Saya Agung, temennya Nada…” Jawab lelaki tampan ini dengan santainya.

          “Agung? Agung Budiharjoe???” Aku syok bukan kepalang. Rasa badan ini seperti mati, Aku baru saja membaca buku diary Nada, dan sekarang orangnya di Itali. Ini entah semacam kutukan atau apalah.

          “Kamu tau saya? Iya saya Agung Budiharjoe… Kamu siapa?” Mendengar suara dan gaya bahasanya, Aku mulai yakin Agung adalah laki-laki baik, penyabar, dan sepertinya tidak mudah marah. Terbilang cocok untuk tipikal cowok yang seharusnya menjaga perempuan petakilan, pecicilan kayak cicak seperti Nada.

            “Gue temennya Nada… Ray… By the way, are you with her?” Tanyaku penasaran.

           “Yes, Nada safe with me. She is sleeping right now.” Ujar laki-laki itu dengan intonasi tak berdosa. SLEEPING!!??? WTF DID HE DO WITH MY NADA!!??? Aku menjerit dalam hati, rasa ingin menggampar laki-laki berengsek ini.



            “WHAAAT!!??? MAKSUD LO TIDUR APAAN HAH!!?? JANGAN PERNAH LO BERANI NYENTUH NADA SEDIKIT PUN!!!” Aku membentak Agung tanpa ragu di tengah keramaian orang yang lalu lalang di café ini. Terserah mereka mau bilang Aku tolol, yang jelas tidak ada satu pun yang boleh nyentuh Nada milikku. Nada.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net