“Apa kabar
Jelek? Hehe… aku nekad ya bisa sampe sini cuma buat nemuin makhluk aneh dari
planet Zeta Reticuli, hahaha planet yang kita ciptain sendiri.” Ucap lelaki
berparas tampan itu sambil menyapu rambutku dengan tangannya. “I miss you.”
Lanjutnya.
“Aku baik Bo… aku masih gak percaya
kamu disini.” Aku menghela nafas panjang. “Kamu gila, iya aku akuin kamu emang
gila. Tapi ini… Italy jauh dan kamu bisa sampe sini cuma untuk bilang ‘I miss
you’?” Aku berbicara panjang lebar pada laki-laki yang biasa ku panggil dengan
sebutan Bobo.
“Nad… let me tell you something.”
Agung jeda bicara sejenak untuk mengambil nafas. “Tiga bulan yang lalu, aku ke
sekolah kamu dulu. Dan aku denger gosip dari beberapa guru kalo salah satu
murid yang bernama Almira Shaki Nada ini melanjutkan studi nya di negara
orang.” Suaranya begitu menenangkanku saat bicara. “Awalnya aku gak yakin,
karna yang aku yakin Lendir ku ini pasti pamit kalo pergi jauh… akhirnya, aku
memutuskan untuk dateng ke rumah kamu. Berharap kalo gosip itu gak bener, dan
kalau pun bener setidaknya kamu ada waktu untuk pamit sama aku kan?” sambil
berjalan menyusuri kota malam Venice, Agung membawa kami kepada sebuah gerobak
Ice Cream pinggir jalan, dan memesannya. Lalu, Ia membawaku ke tepi sungai
Venice, memberikan sebelah tangan kirinya untuk ku genggam dan mengarahkan ku
kepada sebuah perahu kecil yang biasa orang sebut dengan ‘Gondola’. “Sama
seperti impian kamu 2 tahun lalu kan? Berada diatas sungai dengan sinar
rembulan yang cahanya mengalahkan segala cahaya di alam ini.” Saat Agung yang
terus bicara, Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang Ia lakukan disini,
saat ini bersamaku. Ray kamu dimana???
Batinku berteriak memanggil Ray. “Nad…”
“Hah!? Iya Bo…” Agung memecahkan
lamunanku.
“Moon river… inget lagu itu kan?
Lagu kebangsaan kita?”
“Bagaimana mungkin aku bisa lupa…”
Lalu Aku mengeluarkan iPod touch dari tas selempang seukuran dompet dan memutar
lagu Moon River yang dinyanyikan oleh Audrey Hepburn namun ini versi
instrumentalnya, dimana hanya ada suara perpaduan antara piano dan biola, yang
menjadikan malam ini sempurna. Bersama dia yang selalu menjadikan ku wanita
istimewa, diatas Gondola yang mengalir mengikuti arus sungai dengan pantulan
sinar rembulan dan lampu-lampu dari rumah penduduk yang menjadikan malamku
sangat-sangat luar biasa indah. “Lalu alasan apa yang membuat kamu dateng
kesini?”
“Waktu itu aku sekalian mau ngasih
kabar gembira buat kamu, setelah aku ketemu sama keluarga kamu dan bertanya
tentang kebenarannya, iya dan ternyata kamu udah pergi dari sebulan yang lalu
tanpa ngasih kabar.” Agung menatap kedalam mataku lekat. “Aku kecewa Nad, aku sedih…”
Ucapnya parau.
“Kenapa?” Tanyaku penuh rasa ingin
tahu.
“Karna itu artinya aku gak sempet
nitip oleh-oleh!”
“KAMPRET!” Agung benar-benar
menghancurkan suasana yang tegang menjadi luar biasa menjengkelkan. Dan Ia
tertawa lepas seolah tak berdosa. “Aku serius!”
“Hahahahaha!!! Iya iya maaf…” Agung
lagi-lagi membuatku terenyah dengan dekapan hangatnya. “Aku sedih, karna hampir
setiap kali aku punya sahabat mereka semua pergi ninggalin aku sendiri.”
Jawabnya dengan intonasi kecewa. Namun Aku masih jauh lebih kecewa dengan kata
‘sahabat’ di dalam kalimatnya barusan. “Kamu belum punya pacar kan disini?”
tiba-tiba dia melepas dekapannya dan bertanya dengan reflek.
“Memang kenapa?”aku bertanya sambil
mengangkat kedua alis.
“Aku gak akan pernah rela bekicot
berlendir yang bau matahari punya aku ini jadi milik orang lain. Gak akan
pernah rela.” Jawabnya singkat.
“Tapi pacar kamu? Harusnya kan kamu
yang gak rela kalo dia jadi milik orang lain.”
“Nada, aku udah pernah cerita kan
tentang status aku sama pacar aku? Udah ah, aku gak mau bahas itu sekarang… Aku
Cuma mau nikmatin malem ini berdua sama kamu.” Agung tersenyum, dan alunan lagu
Moon River itu masih terus menemani perjalanan kami yang tak berhujung.
“Tapi gimana bisa kamu sampe sini
Bo?” Aku masih merasa belum diberi jawaban.
“Oke, jadi, setelah denger berita
itu, aku langsung berniat untuk nemuin kamu di acara pameran seni yang kamu
datengin sekarang ini. Undangan ini di kirim dari duta besar di Indonesia untuk
beberapa lembaga kursus bahasa asing dan lembaga kursus seni, kamu inget Geo?
Dia temen aku yang kursus seni lukis di daerah Jakarta Selatan, lembaganya
dapet undangan itu dan ngajak beberapa murid berbakat dari situ. Geo ngabarin
aku seminggu setelah aku tau kamu ada di Itali. Dan aku minta dia untuk pergi
bareng aku, aku bongkar tabungan di Bank. Hehehe…” Agung terus menjelaskan
dengan sejelas-jelasnya. “Kebanyakan yang dateng dari Bali sih kayaknya, acara
ini juga di taro di internet supaya yang umum juga bisa dateng buat nikmatin
pameran ini. Tapi sih bayar sekitar beberapa Euro gitu.”
“Kamu gila?” Lagi-lagi aku masih
belum bisa percaya. “Geo dimana?”
“Nad… please, kalo aku gila aku
kesini pasti berenang, bukan naik pesawat. Aku seneng banget bisa naik
pesawaaat!!! Geo tadi langsung masuk ke gedung, liat pamerannya.”
Setahuku, dua tahun yang lalu, Agung
berusaha mati-matian menabung untuk mengambil sekolah penerbangan dari hasil
jerih payah dia sebagai videographer yang cukup dikenal banyak orang, bahkan
hingga beberapa publik figur pun menggunakan jasa Agung dan teman-temannya
untuk mendokumentasikan momen penting mereka. Aku sangat tau Ia ingin sekali
menjadi pilot dan teramat cinta mati dengan pesawat terbang. Iya, sampai saat
ini hanya kedua tanganku yang bisa membantu menopangnya dari jauh dengan do’a.
Begitulah cara kami menunjukan rasa sayang kami.
“Sekolah pilot kamu gimana
kelanjutannya?”
“Itu dia kabar gembira yang mau aku
sampein sama kamu! Aku mau kamu denger sendiri dari mulut aku… SEBENTAR LAGI
AKU JADI PILOOOOT!!! DAN INI SEMUA BERKAT KAMU!!! BERKAT SEMANGAT KAMU DAN
USAHA AKU!!!” Agung berteriak kegirangan. Saking senangnya Ia sampai lupa diri
kalau saat ini Ia berada diatas Gondola yang mudah goyah. Agung memelukku erat
dan menggoyangkannya ke kanan lalu ke kiri. Sementara bapak-bapak pengayuh
‘Gondola’ itu hanya bisa tertawa melihat tingkah Agung yang pecicilan, meskipun
sepertinya Ia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang sedang kami
bicarakan. Tanpa sempat berbicara sepatah kata pun tanpa sadar Aku mengeluarkan
air mata, air mata bahagia karna semua perjuanganku untuk terus mendo’akan nya
ternyata di dengar Tuhan. Di tambah lagi aku saat itu hanya bisa menyaksikan
dari jauh bagaimana perjuangan seorang Agung hingga bisa sebahagia ini. Aku
tidak peduli siapa yang berada di sebelahnya saat itu, yang terpenting adalah
siapa yang bisa membuatnya bangkit mengejar mimpinya. Dan pada akhirnya Aku
sadar, seorang pacar yang hanya bisa mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘jangan lupa
makan’, masih bisa tergantikan oleh seorang sahabat yang akan membuatnya
berkata “Aku jadi pilot dan ini berkat kamu.” Lalu, lebih membanggakan mana?
Aku sungguh-sungguh bahagia mendengar berita ini.
“Nad…? Kok kamu nangis sih??? Ayo
dong seneng! Kan aku udah berjuang untuk bisa jadi pilot, kamu semangatin aku!
Kamu buat aku yakin kalo mimpi aku bisa di wujudin! Makasih Nadaaa!” Agung
kembali mendekapku erat.
0 comments:
Post a Comment