Sunday, August 10, 2014

He Is Mr. A (Part II)

Posted by Unknown at 12:31 PM
         “Apa kabar Jelek? Hehe… aku nekad ya bisa sampe sini cuma buat nemuin makhluk aneh dari planet Zeta Reticuli, hahaha planet yang kita ciptain sendiri.” Ucap lelaki berparas tampan itu sambil menyapu rambutku dengan tangannya. “I miss you.” Lanjutnya.

         “Aku baik Bo… aku masih gak percaya kamu disini.” Aku menghela nafas panjang. “Kamu gila, iya aku akuin kamu emang gila. Tapi ini… Italy jauh dan kamu bisa sampe sini cuma untuk bilang ‘I miss you’?” Aku berbicara panjang lebar pada laki-laki yang biasa ku panggil dengan sebutan Bobo.

         “Nad… let me tell you something.” Agung jeda bicara sejenak untuk mengambil nafas. “Tiga bulan yang lalu, aku ke sekolah kamu dulu. Dan aku denger gosip dari beberapa guru kalo salah satu murid yang bernama Almira Shaki Nada ini melanjutkan studi nya di negara orang.” Suaranya begitu menenangkanku saat bicara. “Awalnya aku gak yakin, karna yang aku yakin Lendir ku ini pasti pamit kalo pergi jauh… akhirnya, aku memutuskan untuk dateng ke rumah kamu. Berharap kalo gosip itu gak bener, dan kalau pun bener setidaknya kamu ada waktu untuk pamit sama aku kan?” sambil berjalan menyusuri kota malam Venice, Agung membawa kami kepada sebuah gerobak Ice Cream pinggir jalan, dan memesannya. Lalu, Ia membawaku ke tepi sungai Venice, memberikan sebelah tangan kirinya untuk ku genggam dan mengarahkan ku kepada sebuah perahu kecil yang biasa orang sebut dengan ‘Gondola’. “Sama seperti impian kamu 2 tahun lalu kan? Berada diatas sungai dengan sinar rembulan yang cahanya mengalahkan segala cahaya di alam ini.” Saat Agung yang terus bicara, Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang Ia lakukan disini, saat ini bersamaku. Ray kamu dimana??? Batinku berteriak memanggil Ray. “Nad…”

            “Hah!? Iya Bo…” Agung memecahkan lamunanku.

            “Moon river… inget lagu itu kan? Lagu kebangsaan kita?”

        “Bagaimana mungkin aku bisa lupa…” Lalu Aku mengeluarkan iPod touch dari tas selempang seukuran dompet dan memutar lagu Moon River yang dinyanyikan oleh Audrey Hepburn namun ini versi instrumentalnya, dimana hanya ada suara perpaduan antara piano dan biola, yang menjadikan malam ini sempurna. Bersama dia yang selalu menjadikan ku wanita istimewa, diatas Gondola yang mengalir mengikuti arus sungai dengan pantulan sinar rembulan dan lampu-lampu dari rumah penduduk yang menjadikan malamku sangat-sangat luar biasa indah. “Lalu alasan apa yang membuat kamu dateng kesini?”

         “Waktu itu aku sekalian mau ngasih kabar gembira buat kamu, setelah aku ketemu sama keluarga kamu dan bertanya tentang kebenarannya, iya dan ternyata kamu udah pergi dari sebulan yang lalu tanpa ngasih kabar.” Agung menatap kedalam mataku lekat. “Aku kecewa Nad, aku sedih…” Ucapnya parau.

            “Kenapa?” Tanyaku penuh rasa ingin tahu.

            “Karna itu artinya aku gak sempet nitip oleh-oleh!”

     “KAMPRET!” Agung benar-benar menghancurkan suasana yang tegang menjadi luar biasa menjengkelkan. Dan Ia tertawa lepas seolah tak berdosa. “Aku serius!”

          “Hahahahaha!!! Iya iya maaf…” Agung lagi-lagi membuatku terenyah dengan dekapan hangatnya. “Aku sedih, karna hampir setiap kali aku punya sahabat mereka semua pergi ninggalin aku sendiri.” Jawabnya dengan intonasi kecewa. Namun Aku masih jauh lebih kecewa dengan kata ‘sahabat’ di dalam kalimatnya barusan. “Kamu belum punya pacar kan disini?” tiba-tiba dia melepas dekapannya dan bertanya dengan reflek.

            “Memang kenapa?”aku bertanya sambil mengangkat kedua alis.

          “Aku gak akan pernah rela bekicot berlendir yang bau matahari punya aku ini jadi milik orang lain. Gak akan pernah rela.” Jawabnya singkat.

            “Tapi pacar kamu? Harusnya kan kamu yang gak rela kalo dia jadi milik orang lain.”

           “Nada, aku udah pernah cerita kan tentang status aku sama pacar aku? Udah ah, aku gak mau bahas itu sekarang… Aku Cuma mau nikmatin malem ini berdua sama kamu.” Agung tersenyum, dan alunan lagu Moon River itu masih terus menemani perjalanan kami yang tak berhujung.

            “Tapi gimana bisa kamu sampe sini Bo?” Aku masih merasa belum diberi jawaban.

            “Oke, jadi, setelah denger berita itu, aku langsung berniat untuk nemuin kamu di acara pameran seni yang kamu datengin sekarang ini. Undangan ini di kirim dari duta besar di Indonesia untuk beberapa lembaga kursus bahasa asing dan lembaga kursus seni, kamu inget Geo? Dia temen aku yang kursus seni lukis di daerah Jakarta Selatan, lembaganya dapet undangan itu dan ngajak beberapa murid berbakat dari situ. Geo ngabarin aku seminggu setelah aku tau kamu ada di Itali. Dan aku minta dia untuk pergi bareng aku, aku bongkar tabungan di Bank. Hehehe…” Agung terus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya. “Kebanyakan yang dateng dari Bali sih kayaknya, acara ini juga di taro di internet supaya yang umum juga bisa dateng buat nikmatin pameran ini. Tapi sih bayar sekitar beberapa Euro gitu.”

            “Kamu gila?” Lagi-lagi aku masih belum bisa percaya. “Geo dimana?”

           “Nad… please, kalo aku gila aku kesini pasti berenang, bukan naik pesawat. Aku seneng banget bisa naik pesawaaat!!! Geo tadi langsung masuk ke gedung, liat pamerannya.”

            Setahuku, dua tahun yang lalu, Agung berusaha mati-matian menabung untuk mengambil sekolah penerbangan dari hasil jerih payah dia sebagai videographer yang cukup dikenal banyak orang, bahkan hingga beberapa publik figur pun menggunakan jasa Agung dan teman-temannya untuk mendokumentasikan momen penting mereka. Aku sangat tau Ia ingin sekali menjadi pilot dan teramat cinta mati dengan pesawat terbang. Iya, sampai saat ini hanya kedua tanganku yang bisa membantu menopangnya dari jauh dengan do’a. Begitulah cara kami menunjukan rasa sayang kami.

            “Sekolah pilot kamu gimana kelanjutannya?”

            “Itu dia kabar gembira yang mau aku sampein sama kamu! Aku mau kamu denger sendiri dari mulut aku… SEBENTAR LAGI AKU JADI PILOOOOT!!! DAN INI SEMUA BERKAT KAMU!!! BERKAT SEMANGAT KAMU DAN USAHA AKU!!!” Agung berteriak kegirangan. Saking senangnya Ia sampai lupa diri kalau saat ini Ia berada diatas Gondola yang mudah goyah. Agung memelukku erat dan menggoyangkannya ke kanan lalu ke kiri. Sementara bapak-bapak pengayuh ‘Gondola’ itu hanya bisa tertawa melihat tingkah Agung yang pecicilan, meskipun sepertinya Ia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang sedang kami bicarakan. Tanpa sempat berbicara sepatah kata pun tanpa sadar Aku mengeluarkan air mata, air mata bahagia karna semua perjuanganku untuk terus mendo’akan nya ternyata di dengar Tuhan. Di tambah lagi aku saat itu hanya bisa menyaksikan dari jauh bagaimana perjuangan seorang Agung hingga bisa sebahagia ini. Aku tidak peduli siapa yang berada di sebelahnya saat itu, yang terpenting adalah siapa yang bisa membuatnya bangkit mengejar mimpinya. Dan pada akhirnya Aku sadar, seorang pacar yang hanya bisa mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘jangan lupa makan’, masih bisa tergantikan oleh seorang sahabat yang akan membuatnya berkata “Aku jadi pilot dan ini berkat kamu.” Lalu, lebih membanggakan mana? Aku sungguh-sungguh bahagia mendengar berita ini.

            “Nad…? Kok kamu nangis sih??? Ayo dong seneng! Kan aku udah berjuang untuk bisa jadi pilot, kamu semangatin aku! Kamu buat aku yakin kalo mimpi aku bisa di wujudin! Makasih Nadaaa!” Agung kembali mendekapku erat.

            “Sama-sama Bo, aku terharu dengernya. Aku seneng, karna selama ini do’a aku gak ada yang sia-sia.” Aku menangis sampai akhirnya Aku merasakan tubuhku melemah, tatapanku kabur dan gelap, hingga akhirnya tak sadarkan diri dalam dekapan lelaki yang teramat ku cintai.

0 comments:

Post a Comment

 

precarioustory Template edited By @yahsya54 | Suported By masblo[dot]net